Pages

Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Saturday, 19 October 2013

[Tips] 5 Gejala Alergi Yodium

Meskipun tubuh menggunakan yodium untuk menghasilkan hormon, misalnya hormon tiroksin yang diproduksi oleh kelenjar tiroid, namun beberapa orang memiliki alergi terhadap yodium.

Pada kenyataannya, orang yang alergi terhadap kerang atau makanan laut lain yang banyak mengandung yodium biasanya lebih besar kemungkinannya alergi terhadap yodium.
Berikut adalah beberapa gejala alergi yodium:

1. Masalah Tiroid

Seseorang yang alergi terhadap yodium mungkin akan mengalami masalah dengan tiroid karena tubuhnya tidak dapat menerima yodium yang diperlukan untuk memproduksi hormon-hormon yang dibutuhkan.
Jika tubuh kekurangan hormon-hormon tersebut maka dapat menyebabkan masalah konstipasi, kelemahan, obesitas, dan gangguan mental.

2. Pembengkakan Jaringan Lunak

Salah satu tanda alergi adalah bengkak pada jaringan lunak seperti mulut, bibir, lidah, dan tenggorokan.
Tenggorokan yang bengkak bisa berbahaya karena dapat menyumbat jalan napas dan menyebabkan kesulitan bernapas.

3. Pembengkakan Eksternal dan Internal

Pembengkakan eksternal (terjadi diluar tubuh) umum menyertai reaksi alergi yodium. Selain itu, pembengkakan internal juga bisa terjadi dan menimbulkan gejala seperti muntah, batuk mengi, serta diare.

4. Mata dan Hidung

Beberapa indikasi alergi terhadap yodium diantaranya adalah munculnya gejala khas seperti mata merah, gatal, dan berair serta hidung meler.

5. Shock

Pada kasus ekstrim, seseorang bahkan bisa mengalami shock anafilaksis yang umumnya ditandai dengan gagal napas, tekanan darah rendah, bahkan kehilangan kesadaran.
Pada kasus ini, pasien harus segera mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan

[Sumber/Refrensi : amazine.co]

[Tips] Memilih Suplemen Yodium Apakah Garam Ber-Yodium ?

Apakah menggunakan garam beryodium cukup untuk memasok tubuh dengan yodium yang dibutuhkan?

Perlukah kita mengambil suplemen yodium?

Meskipun teknik memasukkan yodium dalam garam dianggap berhasil untuk memenuhi tubuh akan kebutuhan yodium, para ahli belum sepakat mengenai jumlah yodium yang diperlukan agar kesehatan tetap terjaga optimal.

Dosis harian minimal sebesar 150 mcg yodium perhari dianggap cukup untuk mencegah gondok dan kretinisme.

Namun jumlah tersebut mungkin tidak mencukupi untuk memaksimalkan produksi hormon tiroid atau untuk melindungi tubuh dari penyakit lainnya yang berhubungan dengan kekurangan yodium.

Garam Beryodium

Satu sendok teh garam beryodium mengandung komponen sebagai berikut:

• 2.300 mg sodium

• 2.700 mg klorida

• 300 mcg iodida (0,3 mg)

Dosis Yodium

Umumnya terdapat konsensus mengenai dosis berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.

Namun khusus yodium, terdapat perbedaaan pendapat dari para ahli mengenai dosis yang aman dan efektif.

Pendapat konservatif menyatakan bahwa semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh dapat ditemukan dalam makanan. Teori ini mungkin benar 60 tahun lalu, tetapi seiring daya dukung tanah yang semakin berkurang, mineral dan nutrisi dalam bahan makanan juga akan berkurang.

Sebaliknya, pendapat lain menyatakan seseorang harus mengonsumsi sampai 50 mg yodium per hari atau 300 kali lipat dari dosis yang biasa dianjurkan (150 mcg).

Dosis yodium tinggi pada awalnya mungkin akan bermanfaat, tapi penggunaan jangka panjang bukan berarti tanpa risiko.

Dosis tinggi yodium dalam jangka lama bisa menyebabkan peradangan tiroid dan bisa meningkatkan risiko kondisi kesehatan yang disebut Hashimoto.

Diantara dua sisi ektrim ini, beberapa hasil penelitian merekomendasikan dosis yodium antara 3 mg sampai 6 mg sehari sebagai aman.

Dosis ini dianggap sebagai dosis pertengahan yang dianggap bisa mencukupi kebutuhan yodium tubuh, akan tetapi tetap aman.

Suplemen Yodium

Jika kebutuhan yodium tidak bisa dipenuhi dari makanan, maka Anda mungkin memerlukan suplemen yodium. Direkomendasikan untuk memilih suplemen yang mengandung sekaligus yodium dan iodida. Kedua zat ini penting untuk menjaga kesehatan sekaligus berguna untuk mensintesis hormon tiroksin

[Sumber/Refrensi : amazine.co]

[Tips] Manfaat Dari Yodium

Kalau kita dengar kata Yodium, sudah pasti kita merujuk kepada GARAM, garam yang sering kita lihat dan mudah kita dapatkan dan tersedia di setiap rumah [dapur] bahkan tersedia di warung-warung makan pinggir jalan hingga Resto yang kerkelas sudah pasti garamada dan tersedia.

Yang membedakannya dari garam tersebut adalah kadar Yodiumnya, ada garam yang mengandung Yodium dan ada juga garam yang tidak mengandung Yodium. Arttikel ini kami tulis dan kami hadirkan kembali dari beberapa sumber atau refrensi yang membahas tentang Yodium, agar kita semua dapat memahami sebarapa penting
Yodium yang ada di tubuh kita ini untuk kesehatan, dan di makanan / sayuran apa saja yang mengandung Yodium ?. Yodium menjadi penanda kelenjar tiroid yang sehat, yang berperan dalam membunuh kuman berbahaya dan membentuk hormon tiroksin serta hormon triodothyronine.

Yodium adalah mineral berwarna hitam keabu-abuan, dan mengeluarkan asap korosif warna ungu saat dipanaskan.

Seberapa Besar Dosis Yodium Yang Dibutuhkan Untuk Tubuh Kita ?

Dosis harian yodium yang disarankan adalah 80 mcg untuk anak-anak dan 150 mcg untuk orang dewasa.
Dosis ini akan lebih tinggi pada wanita hamil dan menyusui. Namun hati-hati, kelebihan yodium bisa menyebabkan hidung menjadi lembab.
Dari Manakah Sumber Yodium itu ?
Yodium bisa ditemukan dalam air, makanan, dan garam. Namun yodium sangat jarang ditemukan di pegunungan dan dataran tinggi. Air laut umumnya mengandung 0,2 mg yodium per liter.
Rumput laut dan kerang sangat kaya yodium. Sumber terbaik lain yodium adalah ikan laut, garam beryodium, dan sayuran hijau seperti bayam.
Sumber lain yodium termasuk susu, daging, dan sereal. Sekitar 90% dari asupan yodium diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, dan sisanya dari air.
Garam biasa yang diperkaya dengan natrium atau kalium iodat tersedia bebas di pasaran dan dilabeli sebagai garam beryodium.


Apakah Fungsi Dari Yodium itu ?

Metabolisme yodium dikendalikan oleh tiroid. Yodium sangat penting bagi tubuh.
Jumlah total yodium dalam tubuh adalah 25 mg, dan setengah dari jumlah itu berada dalam tiroid sebagai thyroglobulin, sebuah kompleks protein dan yodium.
Yodium juga hadir dalam darah dan dalam bentuk yodium anorganik dengan konsentrasi bervariasi antara 0,5-1,0 mcg per 100 ml.
Tiroksin, hormon yang dihasilkan tiroid, berfungsi mengontrol metabolisme dasar dan konsumsi oksigen jaringan tubuh.
Yodium juga dapat mengatur pemanfaatan gula, tingkat produksi energi, dan berfungsi mengontrol pertumbuhan tubuh yang optimal. Yodium juga bisa mengurangi ketegangan, menenangkan pikiran, dan menjaga kulit, rambut, gigi, dan kuku agar tetap sehat.
Yodium juga dapat membantu dalam sintesis kimia kolesterol. Kelebihan lemak dalam tubuh juga akan dibakar oleh yodium.

Bagaimanakah Tanda Tubuh Kita Apabila Kekurangan Yodium

Bila jumlah hormon tiroid dalam serum menurun, kelenjar pituitari akan melepaskan thyroid-stimulating hormone (TSH) yang merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi lebih banyak tiroksin
Hal ini menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang dikenal sebagai struma sederhana, yang disertai pembengkakan kaki atau jari kaki, pembesaran kelenjar, lapar yang berlebihan, sakit neuralgis di jantung, dll.
Tanda kekurangan yodium yang lain akan meliputi refleks melambat, tuli, dan susah konsentrasi. Kekurangan yodium akan mempengaruhi fisik dan mental, obesitas, dan pengerasan pembuluh darah.
Kurangnya diet yodium bisa pula memicu anemia, kelelahan, kehilangan minat pada seks, denyut jantung melambat, tekanan darah rendah, dan peningkatan trigliserida atau kolesterol yang bisa menyebabkan penyakit jantung.
Anak-anak yang kekurangan yodium akan mengalami hambatan pertumbuhan (kerdil), dan mengalami keterbelakangan kecerdasan.

Makanan Yang Mengandung / Sumber Yodium

1) Untuk Non-vegetarian

- Salmon
- Tuna
- Kerang
- Cod
- Herring
- Garam beryodium

2) Untuk Vegetarian

- Kelp
- Rumput Laut
- Produk susu dan susu
- Garam beryodium

Banyak orang menganggap makanan tinggi garam seperti keripik, kue kering, dll merupakan sumber yodium karena mengandung garam. Kenyataannya tidaklah seperti itu. Meskipun produk tersebut tinggi garam, tetapi umumnya tidak mengandung garam beryodium.

Tips Yodium : 

1. Suplemen yodium tidak boleh diambil oleh wanita hamil.

2. Satu sendok teh garam beryodium mengandung 300 mcg yodium atau dua kali lipat dosis yang direkomendasikan.

3. Makanan asin dan makanan ringan bukan merupakan sumber yodium. Produk tersebut tidak mengandung yodium dan bisa berbahaya bagi kesehatan karena kandungan natrium yang tinggi.

4. Meskipun yodium membantu mencegah gangguan kelenjar tiroid, gangguan tiroid tidak bisa disembuhkan hanya dengan mengonsumsi yodium. Dalam situasi seperti ini, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter

Note
Sayuran tertentu seperti kubis, kembang kol dan lobak mengandung glukosinolat (thiogluosides) yang merupakan goitrogens potensial. Makan terlalu banyak sayuran tersebut akan mengurangi ketersediaan yodium dalam tubuh dan dapat mengakibatkan penyakit gondok. Konsumsi air yang mengandung klor juga dapat membuat yodium hilang dari tubuh.
[sumber/refrensi  : Amazine.co]








Friday, 16 August 2013

Keringanan Biaya untuk Pasien Hepatitis C Kurang Mampu

PEGASSIST logo

Seperti kita ketahui berdasarkan data Surveilans Nasional Hepatitis C Direktorat Jendral PP&PL pada Oktober 2007 – September 2009, diperkirakan 1-2% populasi Indonesia atau sekitar 3,4 juta orang telah terinfeksi virus Hepatitis C. Namun hanya sebagian kecil yang ditanggung biaya terapinya oleh ASKES, dan sebagian besar masih harus membiayai pengobatan Hepatitis C secara mandiri. Tingginya biaya terapi seringkali membuat pasien menunda bahkan tidak mendapatkan pengobatan, padahal standar terapi Hepatitis C Kronik saat ini dengan Pegylated Interferon dan Ribavirin dapat memberikan angka kesembuhan yang cukup tinggi terutama pada populasi Asia.
Dalam rangka meningkatkan akses terapi bagi pasien Hepatitis C yang kurang mampu ini, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) berinisiatif mengusahakan keringanan biaya untuk pengobatan Hepatitis C bagi pasien kurang mampu. Inisiatif ini terselenggara melalui kerja sama dengan sektor swasta, PT Roche Indonesia, sebagai wujud komitmenbersama dalam upaya eradikasi Hepatitis C di Indonesia. Melalui Program PEGASSIST yang berjalan resmi sejak 22 Oktober 2012 ini, pasien kurang mampu akan menerima subsidi Pegasys (pegylated interferon alfa-2a) selama durasi terapi yang dijalankan.
Berikut adalah ketentuan program PEGASSIST :

  1. Program tersedia untuk Pasien Hepatitis C yang kurang mampu berdasarkan rekomendasi dokter.
  2. Program tidak dapat diberikan pada Pasien Hepatitis C yang ditanggung perusahaan / institusi.
  3. Program dapat diberikan oleh semua dokter (KGEH, internis GP)
  4. Skema subsidi untuk semua Pasien Hepatitis C kurang mampu:
    1. Genotipe 1/4: pasien mendapatkan subsidi 12 Pre-filled syringe (PFS) di 3 bulan terakhir dari terapi dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a) (suntikan ke-37 s.d. 48)
    2. Genotipe 2/3:  pasien mendapatkan subsidi 6 Pre-filled syringe (PFS) di 1,5 bulan terakhir dari terapi dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a) (suntikan ke-19 s.d. 24)
  5. Pemeriksaan laboratorium gratis untuk pasien Hepatitis C kurang mampu yang menjalani pengobatan dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a):
    1. 1x HCV RNA test + 1x HCV genotype test di Baseline (sebelum terapi).
    2. 1x HCV RNA test 6 bulan post-therapy (6 bulan setelah terapi selesai untuk mengukur SVR).
Rekan sejawat yang merekomendasikan pasien kurang mampu untuk terapi dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a), dapat menginformasikan tentang ketersediaan program PEGASSIST serta menginformasikan calon penerima PEGASSIST tersebut ke perwakilan PT Roche Indonesia untuk ditindaklanjuti.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Erin (0818188285)

Sumber : http://pphi-online.org


Thursday, 8 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang penyakit hepatitis C

Hepatitis C

 

efek hepatitis C

 

Fakta:

  • Sekitar 150 juta orang secara kronis terinfeksi virus hepatitis C dan berpotensi mengakibatkan sirosis dan kanker hati, dan lebih dari 350.000 orang meninggal setiap tahun dari hepatitis C yang berhubungan dengan penyakit hati [i].
  • Penderita hepatitis B dan C diperkirakan sebanyak 25 juta orang di Indonesia, sebanyak 50% di antaranya berkembang menjadi kronis dan 10% lainnya berkembang menjadi kanker hati [ii].
  • Saat ini belum ada vaksin untuk hepatitis C, namun, penelitian pada penyakit ini masih terus berlangsung [iii].
_________________________________________________________________________________

Pengertian

 

Apakah hepatitis?

“Hepatitis” berarti (inflamasi) peradangan pada hati (liver) yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus.

 

Apa perbedaan antara Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C dan?

Hepatitis A, Hepatitis B, dan Hepatitis C merupakan penyakit yang disebabkan oleh tiga virus yang berbeda. Meskipun dapat menyebabkan gejala yang sama, virus – virus tersebut memiliki modus transmisi dan kerusakan pada hati yang berbeda. Hepatitis A hanya muncul sebagai infeksi akut dan tidak menjadi kronis. Penderita Hepatitis A biasanya membaik tanpa pengobatan. Hepatitis B dan Hepatitis C juga dapat muncul sebagai infeksi akut, tetapi bagi beberapa kasus, virus tetap tinggal dalam tubuh, sehingga menjadi kronis.

 

Mekanisme Penularan

Bagaimana mekanisme transmisi penularannya?

Hepatitis C biasanya menyebar ketika darah dari orang yang terinfeksi Virus Hepatitis C (HCV) memasuki tubuh seseorang yang tidak terinfeksi. Hal ini dapat terjadi pada kegiatan – kegiatan seperti:
  1. Menggunakan jarum suntik atau alat injeksi lainnya yang terkontaminasi HCV.
  2. Menerima transfusi darah yang terkontaminasi.
  3. Dilahirkan dari ibu yang telah terinfeksi HCV.
  4. Hepatitis C dapat ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang terinfeksi atau berbagi barang pribadi yang telah terkontaminasi, tetapi ini jarang terjadi.
  5. Hepatitis C tidak ditularkan melalui air susu atau melalui kontak biasa seperti memeluk, menyentuh, dan berbagi makanan atau minuman dengan orang yang terinfeksi.
  6. Pengguna narkoba / obat suntik.
  7. Penerima donor darah.
  8. Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
  9. Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun – tahun.
  10. Petugas kesehatan yang terluka akibat jarum suntik.
  11. Pasien yang mengidap HIV.

 

Siapa yang beresiko untuk terkena Hepatitis C?

  1. Pengguna narkoba / obat suntik.
  2. Penerima donor darah.
  3. Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
  4. Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun – tahun.
  5. Petugas kesehatan yang terluka akibat jarum suntik.
  6. Pasien yang mengidap HIV.

 

Berapa lama virus Hepatitis C bertahan hidup di luar tubuh?

Virus Hepatitis C dapat bertahan hidup di luar tubuh setidaknya selama 16 jam, namun tidak lebih dari 4 hari pada suhu kamar.

 

Berapa risiko seorang wanita hamil menularkan Hepatitis C ke bayinya?

Hepatitis C jarang ditularkan dari wanita hamil kepada bayinya. Sekitar 4 dari setiap 100 bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis C terinfeksi virus. Namun, risiko menjadi lebih besar jika ibu juga terinfeksi HIV [iv].

 

Mungkinkah seseorang tertular Hepatitis C dari gigitan nyamuk atau serangga lainnya?

Berdasarkan penelitian, virus hepatitis C belum terbukti dapat ditularkan oleh nyamuk atau serangga lainnya hingga saat ini.

 

Gejala & Efek

 

Apa saja gejala dan akibat yang ditimbulkan dari Hepatitis C?

Masa inkubasi Hepatitis C adalah 2 minggu sampai 6 bulan. Setelah infeksi awal, sekitar 80% penderita tidak menunjukkan gejala apapun. Penderita dengan gejala akut akan menunjukkan demam, kelelahan, penurunan nafsu makan, mual, muntah, sakit perut, urin gelap, tinja berwarna abu-abu, nyeri sendi dan Jaundice (menguningnya kulit dan bagian putih mata).

 

Apakah mungkin ada penderita Hepatitis C yang tidak tahu tentang penyakitnya?

Ya, sebagian besar orang yang terinfeksi virus Hepatitis C namun tidak tahu kalau mereka terinfeksi karena mereka tidak merasa sakit atau menderita gejalanya.

 

Dapatkah seseorang menyebarkan Hepatitis C tanpa gejala?

Ya, seseorang dengan Hepatitis C meskipun tidak memiliki gejala, namun dapat menyebarkan virus ke orang lain.

 

Apa efek jangka panjang dari Hepatitis C?

Dari setiap 100 orang yang terinfeksi virus Hepatitis C, ada sekitar:
  1. 75-85 orang akan berkembang menjadi infeksi kronis.
  2. 60-70 orang akan terus berkembang menjadi penyakit hati kronis.
  3. 5-20 orang akan terus berkembang menjadi sirosis hati selama periode 20-30 tahun.
  4. 1-5 orang akan meninggal akibat sirosis atau kanker hati [v].

 

Rangkaian tes

Apakah tes yang digunakan untuk mendeteksi Hepatitis C?

Rangkaian tes yang digunakan umunya adalah tes EIA untuk mengukur antibodi Hepatitis C,  tes HCV RNA hepatitis untuk mengukur level virus & genotip virus, dan biopsi hati untuk mengukur tingkat keparahan akibat Hepatitis. Biasanya, tes pertama pasien akan mendapatkan tes skrining yang akan menunjukkan apakah dia telah mengembangkan antibodi terhadap virus Hepatitis C atau tidak. (Antibodi adalah suatu zat terdapat dalam darah yang diproduksi oleh tubuh sebagai respon terhadap suatu virus). Jika hasil tes antibodi positif berarti bahwa seseorang telah terkena virus pada suatu waktu, kemudian dokter kemungkinan besar akan melakukan tes kedua untuk mengkonfirmasi apakah virus masih ada dalam aliran darah atau tidak. Jika terdapat virus maka maka tes genetik akan dilakukan untuk memeriksa tipe genotip HCV. Ada 6 tipe genotip, penanganan pada tiap – tiap tipe berbeda satu dengan yang lain. Umumnya genotip yang ada pada penderita adalah:
  1. Tipe genotip 1, genotip ini lebih sulit untuk ditangani & membutuhkan waktu pengobatan yang panjang yaitu 1 tahun, umumnya terdapat pada orang Indonesia.
  2. Tipe genotip 2 dan 3 membutuhkan waktu pengobatan relatif singkat yaitu 6 bulan.

 

Pengobatan

Bagaimanakah mekanisme pengobatan Hepatitis C?

Tujuan pengobatan HCV adalah untuk menghilangkan virus dari darah dan mengurangi risiko sirosis dan kanker hati akibat infeksi jangka panjang HCV.
Banyak pasien dengan hepatitis C membaik dengan menggunakan terapi anti viral. Obat antiviral yang paling umum adalah kombinasi dari pegylated interferon alfa dan ribavirin. Sebagian besar pasien menerima suntikan pegylated interferon alfa per mingguan, sedangkan Ribavirin diminum dua kali sehari. Pengobatan dilakukan selama 24 – 48 minggu. Efek samping yang ditimbulkan Ribavirin yaitu dapat menyebabkan cacat lahir. Oleh karena itu penderita perempuan & istri penderita Hepatitis C harus menghindari hamil selama 6 bulan setelah pengobatan.
Telaprevir dan boceprevir adalah obat baru yang dapat digunakan untuk pasien dengan HCV genotipe 1. Obat-obat ini memiliki sejumlah efek samping, dan pasien harus diawasi dengan ketat.
Orang dengan hepatitis C juga harus:
  1. Berhati-hatilah untuk tidak mengkonsumsi vitamin, suplemen gizi, tanpa terlebih dahulu mendiskusikannya dengan dokter.
  2. Hindari zat-zat yang beracun untuk hati, termasuk alkohol. Bahkan sejumlah besar  alkohol dapat mempercepat perkembangan hepatitis C, serta mengurangi efektivitas pengobatan.
  3. Melakukan vaksinasi terhadap hepatitis A dan B.

 

Pencegahan

Bagaimanakah mekanisme pencegahan Hepatitis C?

Pencegahan primer
  1. Tidak ada vaksin untuk hepatitis C. Risiko infeksi dapat dikurangi dengan:
  2. Menghindari suntikan yang tidak perlu dan tidak aman;
  3. Menghindari pengumpulan dan pembuangan limbah benda tajam yang tidak aman;
  4. Tidak menggunakan obat-obatan terlarang dan berbagi peralatan suntik;
  5. Tidak melakukan seks dengan orang yang terinfeksi hepatitis C;
  6. Tidak berbagi barang pribadi yang tajam yang mungkin terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi;
  7. Menghindari tato, tindikan dan akupunktur yang dilakukan dengan peralatan yang terkontaminasi.
Pencegahan sekunder dan tersier
  1. Bagi orang yang terinfeksi dengan virus hepatitis C, direkomendasikan agar:
  2. Mendapatkan pendidikan dan konseling tentang pilihan untuk perawatan dan pengobatan;
  3. Mendapatkan imunisasi dengan vaksin hepatitis A dan B untuk mencegah koinfeksi dari virus hepatitis untuk melindungi hati mereka;
  4. Mendapatkan manajemen medis secara dini dan tepat termasuk terapi antiviral jika sesuai, dan
  5. Melakukan pemantauan secara berkala untuk diagnosis awal penyakit hati kronis.
Sumber http://pphi-online.org

Wednesday, 7 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang penyakit kanker hati

Kanker Hati (Hepatoma)

kanker hati
FAKTA:
  • Karsinoma hepatoselular (HCC=Hepatocelular Carcinoma) meliputi 5,6% dari seluruh kasus kanker pada manusia serta menempati peringkat ke 5 pada laki-laki dan ke 9 pada perempuan sebagai kanker tersering di dunia. (i)
  • Tingkat kekerapan tertinggi HCC (lebih dari 10 kasus per 100000 penduduk) terdapat pada Asia Timur dan Tenggara. (i)
  • 80% kasus HCC di dunia berada di negara sedang berkembang seperti Asia Timur dan Asia Tenggara serta Afrika Tengah yang merupakan wilayah prevalensi tinggi. (i)
PENGERTIAN
Apa yang dimaksud kanker hati?
Kanker hati adalah pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel ganas di hati yang dihasilkan dari sel-sel abnormal pada hati (primer), atau mungkin akibat dari penyebaran kanker dari bagian tubuh lain (sekunder). (ii) Kanker/tumor hati primer dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis berdasarkan sel asalnya, yaitu kanker/tumor hati jinak dan kanker/tumor hati ganas. Kanker/tumor hati jinak contohnya adalah adenoma hepatik dan hiperplasia fokal nodular (focal nodular hyperplasia=FNH). Untuk kanker/tumor hati ganas contohnya karsinoma hepatoseluler (HCC). (i)

PENYEBAB
 Apa yang menyebabkan kanker hati?
Sulit untuk menentukan apa yang menyebabkan kanker hati, namun para peneliti telah menemukan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker hati. Beberapa faktor risiko untuk kanker hati termasuk:

  1. Hepatitis B & C kronis – Para peneliti telah menghubungkan infeksi hepatitis-B (HBV) dan hepatitis-C (HCV) dengan perkembangan kanker hati dan menemukan hubungan yang signifikan. Diperkirakan bahwa 10-20 persen orang yang terinfeksi hepatitis B kronik akan berkembang menjadi kanker hati.
  2. Sirosis – The National Cancer Institute USA memperkirakan bahwa 5-10 persen orang dengan sirosis (gangguan progresif yang menyebabkan parut pada hati) akan berkembang menjadi kanker hati. Sirosis yang disebabkan oleh virus hepatitis B dan C, penyalahgunaan alkohol dan gangguan genetik dapat menempatkan orang pada risiko tinggi untuk berkembang menjadi kanker hati.
  3. Paparan aflatoksin – zat ini bersifat karsinogenik yang dapat ditemukan pada jamur  yang terdapat pada kacang, jagung, dan biji-bijian.
  4. Paparan vinil klorida dan thorium dioksida (Thorotrast) – Paparan zat kimia ini digunakan pada suatu agen kontras yang dahulu digunakan untuk pencitraan (imaging), menyebabkan suatu kanker dari pembuluh- pembuluh darah dalam hati yang disebut hepatic angiosarcoma
  5. Pil KB – Konsumsi pil jenis kontrasepsi oral ini dapat berkaitan dengan tumbuhnya beberapa jenis kanker pada hati, tapi cukup jarang hingga menjadi HCC.
  6. Steroid anabolik – Penggunaan jangka panjang steroid bisa sedikit meningkatkan risiko kanker hati.
  7. Arsenik – Di beberapa bagian dunia, air minum yang terkontaminasi dengan arsenik menyebabkan peningkatan risiko untuk mengembangkan kanker hati. (iii)
 GEJALA
 Apa gejala dari kanker hati?
Beberapa gejala yang disebabkan oleh kanker hati yaitu kehilangan berat badan, jaundice (mata dan kulit menjadi kuning), lemah, rasa nyeri di perut, akumulasi cairan di perut (ascites), dan demam. Dalam banyak kasus, kanker hati dapat ditemukan pada pasien sirosis atau penyakit hati kronis lainnya tanpa disertai adanya gejala melalui pemeriksaan skrining rutin. (ii)

TES DAN PENGOBATAN
 Pemeriksaan apakah untuk mendiagnosis kanker hati?
  1. Pencitraan –Menggunakan alat, salah satunya USG, CT (computerized tomography), MRI (magnetic resonance imaging), hepatic angiography dan laparoscopy (iv)
  2. Biopsi –Pengambilan sampel kecil dari sel-sel hati yang diambil dan diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Pengambilan sampel hati dengan cara memasukkan jarum halus di antara tulang rusuk kemudian ke hati. Biopsi tidak hanya dapat memastikan adanya sirosis, tetapi juga dapat mengungkapkan penyebabnya. (v)
  3. Pemeriksaan AFP –AFP adalah protein serum normal yang disintesis oleh hati fetal, sel yolk-sac dan sedikit sekali oleh saluran gastriontestinal fetal. Rentang normal AFP serum adalah 0-20 ng/mL. Kadar AFP meningkat pada 60-70% dari pasien HCC. Nilai normal dapat ditemukan pada HCC stadium lanjut. (i)
 Bagaimana pengobatan kanker hati?
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan kanker hati diantaranya:
  1. Pembedahan
  2. Transplantasi hati
  3. Ablasi lokal
  4. Chemoembolization
  5. Kemoterapi
  6. Radiofrequency ablation (RFA)(iv)
PENCEGAHAN
 Bagaimanakah tindakan pencegahan untuk orang yang sehat?
Tindakan pencegahan sebaiknya dilakukan saat pasien belum mengalami penyakit hati kronis yang dapat menyebabkan kanker hati. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
  1. Hindari alkohol.
  2. Melakukan tindakan pencegahan & vaksinasi terhadap Hepatitis B.
  3. Melakukan screening secara berkala pada pasien yang terkena penyakit hati.
  4. Makan yang seimbang, diet rendah lemak dan mengkonsumsi vitamin. (v)
Sumber dari: http://pphi-online.org

Tuesday, 6 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang penyakit hepatitis B

Hepatitis B

 

imagesHBV

Fakta:
  • Diperkirakan bahwa sepertiga populasi dunia pernah terpajan virus  ini dan 350-400  juta orang diantaranya merupakan pengidap hepatitis B. Sekitar 600.000 orang meninggal setiap tahun akibat hepatitis B akut maupun kronis[i].
  • Di Indonesia, angka pengidap hepatitis B pada populasi sehat diperkirakan mencapai 4.0-20.3%, dengan proporsi pengidap di  luar Pulau Jawa  lebih tinggi daripada di Pulau Jawa[ii].
  • Secara genotip, virus hepatitis B (HBV) di Indonesia kebanyakan merupakan virus dengan genotip B (66%), diikuti oleh C (26%), D (7%) dan A (0.8%) [iii].
_________________________________________________________________________________

Pengertian

Apa itu Hepatitis B?

Hepatitis B adalah penyakit peradangan hati akibat infeksi virus Hepatitis B. Perjalanan infeksi Hepatitis B dapat berupa “akut” atau “kronis”, dan dapat menyebabkan komplikasi hati kronis seperti sirosis dan kanker hati yang dapat menyebabkan risiko tinggi kematian.
·         Infeksi akut virus Hepatitis B adalah penyakit jangka pendek yang terjadi dalam 6 bulan pertama setelah seseorang terkena virus Hepatitis B. Infeksi akut dapat menjadi infeksi kronis.
·      Infeksi kronis virus Hepatitis B adalah penyakit jangka panjang yang terjadi ketika virus Hepatitis B menetap dalam tubuh seseorang dan dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati hingga menyebabkan kematian[iv].

Mekanisme Penularan

Berapa besar kemungkinan bahwa Hepatitis B akut akan menjadi kronis?

Kemungkinannya tergantung pada saat usia berapa seseorang menjadi terinfeksi. Usia bayi sangat tinggi kemungkinannya Hepatitis B akut berkembang menjadi kronis, yaitu sekitar 90% dari total bayi yang terinfeksi HBV. Risiko semakin turun jika usia makin tua. Sekitar 25% -50% dari anak-anak berusia antara 1 – 5 tahun yang terinfeksi HBV akan juga beresiko menjadi kronis. Risiko semakin turun menjadi 6% -10% ketika seseorang terinfeksi yang berusia lebih dari 5 tahun. Di seluruh dunia, kebanyakan orang dengan Hepatitis B kronis terinfeksi pada saat lahir atau pada anak usia dini. Di samping itu sebesar 25% orang akan meninggal untuk orang dewasa yang telah terinfeksi HBV kronik sejak anak – anak. Sedangkan untuk pasien yang terinfeksi hepatitis B saat dewasa 90% pasien akan pulih kembali dan virus akan hilang selama rentang waktu 6 bulan[v].

Bagaimana Hepatitis B menyebar?

Hepatitis B menyebar melalui darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya terinfeksi virus Hepatitis B memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi. Virus Hepatitis B dapat menular melalui kegiatan seperti:
  • Kelahiran (menyebar dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya)
  • Aktivitas seks dengan pasangan yang terinfeksi
  • Berbagi barang seperti pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang terinfeksi
  • Kontak langsung dengan darah atau luka terbuka dari orang yang terinfeksi
  • Paparan darah dari jarum suntik dan peralatan tajam lainnya
  • Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
  • Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun – tahun.
Namun, Virus hepatitis B tidak ditularkan melalui kegiatan seperti berbagi peralatan makan, menyusui, memeluk, mencium, memegang tangan, batuk, atau bersin.

Siapa yang beresiko untuk terkena Hepatitis B?

  1. Pengguna narkoba / obat suntik.
  2. Penerima donor darah.
  3. Orang yang menggunakan tindikan dan tatoo yang dibuat oleh peralatan yang tidak steril.
  4. Pasien gagal ginjal yang menjalani prosedur Hemodialisis selama bertahun – tahun.
  5. Petugas kesehatan yang terluka akibat jarum suntik.
  6. Pasien yang mengidap HIV.

Berapa lama virus Hepatitis B bertahan hidup di luar tubuh?

Virus hepatitis B dapat bertahan hidup di luar tubuh setidaknya 7 hari. Selama waktu itu, virus tetap aktif dan dapat menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi.

Jika terkena Hepatitis B di masa lalu kemudian sembuh, apakah dapat tertular kembali?

Tidak, setelah sembuh dari Hepatitis B, tubuh pasien akan mengembangkan antibodi yang melindungi  tubuh dari virus HBV. Antibodi adalah zat yang terdapat dalam darah yang diproduksi oleh tubuh sebagai respon terhadap virus. Antibodi melindungi tubuh dari penyakit dengan menempel pada virus dan menghancurkannya. Namun untuk beberapa orang, terutama mereka yang terinfeksi pada usia dini, mereka tetap terinfeksi seumur hidup karena virus tidak akan hilang dari tubuh mereka[vi].

Gejala & Efek

Apa saja gejala dari Hepatitis B?

Kebanyakan orang tidak mengalami gejala apapun selama fase infeksi akut. Namun, untuk beberapa orang dengan hepatitis B akut memiliki gejala yang mulai terlihat setelah masa inkubasi selama 3 minggu hingga 6 bulan. Gejalanya dapat berupa menguningnya kulit dan mata (jaundice), urin gelap, kelelahan ekstrim, mual, muntah, dan nyeri perut, yang dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga 6 bulan.

Apakah mungkin ada penderita Hepatitis B yang tidak tahu tentang penyakitnya?

Ya, sebagian besar orang yang terinfeksi virus Hepatitis B namun tidak tahu kalau mereka terinfeksi karena mereka tidak merasa sakit atau menderita gejalanya.

Dapatkah seseorang menyebarkan Hepatitis B tanpa gejala?

Ya, seseorang dengan Hepatitis B meskipun tidak memiliki gejala, namun dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Apa dampak kronis dari Hepatitis B?

Penderita hepatitis B kronis mungkin tidak memiliki gejala, meskipun kerusakan hati bertahap mungkin terjadi. Seiring waktu, beberapa orang mungkin mengalami gejala kerusakan hati kronis, sirosis hati dan kanker hati[vii].

Rangkaian pemeriksaan

Apa yang dimaksud dengan antigen dan antibodi?

Antigen adalah substansi yang terdapat pada permukaan virus yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk mengenali dan menanggapinya. Ketika tubuh terkena antigen, tubuh memandangnya sebagai bahan asing dan mengambil langkah untuk menetralisir antigen dengan memproduksi antibodi. Antibodi adalah zat yang terdapat dalam darah yang diproduksi tubuh sebagai respon terhadap virus. Antibodi melindungi tubuh dari penyakit dengan melampirkan virus dan menghancurkannya.

Apakah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi Hepatitis B?

Ada beberapa rangkaian pemeriksaan yang digunakan intik mendiagnosa hepatitis B diantaranya adalah:
  • Pemeriksaan HBsAg, tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya HBV dalam darah. Hasil yang  positif berarti: seseorang telah terinfeksi virus Hepatitis B baik akut ataupun kronis dan dapat menularkan virus kepada orang lain. Sedangkan jika pemeriksaan negatif berarti: seseorang tidak memiliki virus Hepatitis B dalam darahnya. Jika HBsAg menetap selama > 6 bulan maka infeksi dinyatakan kronis.
  • Pemeriksaan anti-HBs, tujuannya untuk mendeteksi antibodi yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respon terhadap antigen pada virus Hepatitis B. Jika pemeriksaan positif berarti: seseorang telah dilindungi atau kebal dari virus Hepatitis B karena  telah divaksinasi atau ia telah sembuh dari infeksi akut (dan tidak bisa Hepatitis B lagi).
  • Pemeriksaan anti-HBc, tujuannya untuk mendeteksi antibodi yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respons terhadap bagian dari virus Hepatitis B yang disebut antigen inti. Hasil dari pemeriksaan ini seringkali tergantung pada hasil dari dua pemeriksaan lainnya , pemeriksaan anti-HBs dan HBsAg. Pemeriksaan positif berarti: seseorang saat ini terinfeksi dengan virus Hepatitis B atau pernah terinfeksi sebelumnya.
  • Pemeriksaan IgM anti-HBc, tujuan pemeriksaan yaitu untuk mendeteksi infeksi akut. Pemeriksaan positif berarti: seseorang telah terinfeksi virus Hepatitis B dalam 6 bulan terakhir.
  • Pemeriksaan HBeAg, tujuannya untuk mendeteksi protein (HBeAg) yang ditemukan dalam darah selama infeksi virus Hepatitis B aktif. Pemeriksaan positif berarti: seseorang memiliki virus tingkat (level) tinggi dalam darahnya dan dapat dengan mudah menyebarkan virus ke orang lain. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memantau efektivitas pengobatan untuk Hepatitis B kronis.
  • Pemeriksaan HBeAb atau anti-HBe, Tujuan untuk mendeteksi antibodi (HBeAb atau anti-HBe) yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respons terhadap Hepatitis B antigen “e”. Pemeriksaan positif berarti: seseorang terinfeksi virus Hepatitis B kronis tetapi berada pada risiko rendah untuk terkena masalah penyakit hati karena rendahnya tingkat virus Hepatitis B dalam darah.
  • Pemeriksaan HBV-DNA, bertujuan untuk mendeteksi seberapa besar HBV DNA dalam darah dan hasil replikasinya pada urin seseorang. Pemeriksaan positif berarti: virus ini berkembang biak di dalam tubuh seseorang dan dapat menularkan virus kepada orang lain. Jika seseorang memiliki Hepatitis B infeksi virus kronis, kehadiran DNA virus berarti bahwa seseorang mengalami peningkatan risiko untuk kerusakan hati. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk memantau efektivitas terapi obat untuk infeksi Virus Hepatitis B kronis serta dapat menjadi dasar perhitungan dimulainya pengobatan.[viii]

Pengobatan

Bagaimanakah mekanisme pengobatan Hepatitis B?

Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis akut B. Perawatan ditujukan untuk menjaga kenyamanan dan keseimbangan gizi yang memadai, banyak istirahat di tempat tidur, makan makanan sehat,  dan minum banyak cairan sebagai penggantian cairan yang hilang akibat muntah dan diare.
Untuk beberapa pasien dengan hepatitis kronis, di Indonesia terdapat  dua  jenis  strategi  pengobatan  hepatitis  B,  yaitu  terapi  dengan durasi terbatas atau terapi jangka panjang. Terapi dengan analog nukleos(t)ida dapat diberikan seumur hidup atau hanya dalam waktu terbatas, sementara interferon hanya diberikan dalam waktu  terbatas mengingat beratnya  efek samping pengobatan. Sampai  saat  ini belum bisa diputuskan pilihan  terapi mana yang paling unggul untuk semua pasien. Pemilihan strategi terapi yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi individu tiap pasien. Tenofovir atau entecavir adalah obat yang dinilai paling efektif untuk digunakan, namun mengingat tingginya biaya dan ketersediaan obat, lamivudin, telbivudin, dan adefovir juga tetap dapat digunakan di Indonesia. Obat-obat tersebut dapat menurunkan atau menghapus hepatitis B dari darah dan mengurangi risiko sirosis dan kanker hati. Pasien dengan hepatitis kronis harus menghindari alkohol dan harus selalu memeriksa dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat atau suplemen herbal tambahan[ix].

Pencegahan

Bagaimanakah mekanisme pencegahan Hepatitis B?

Cara terbaik untuk mencegah Hepatitis B adalah dengan menggunakan vaksin. Vaksin Hepatitis B yang aman dan efektif dan biasanya diberikan 3-4 kali selama 6 bulan. Vaksin hepatitis B immuneglobulin (HBIG) dapat membantu mencegah infeksi hepatitis B jika diberikan dalam waktu 24 jam setelah pajanan.

Siapakah yang harus segera mendapatkan vaksin Hepatitis B?

Semua anak-anak dan remaja berusia di bawah 18 tahun yang sebelumnya tidak divaksinasi, harus menerima vaksin segera. Orang-orang di kelompok risiko tinggi juga harus divaksinasi dan diberikan konseling mengenai perilaku pencegahan terhadap Hepatitis B, kelompok yang berisiko tinggi yaitu:
  • Orang dengan perilaku seksual yang berisiko tinggi.
  • Keluarga atau orang yang hidup serumah dengan orang terinfeksi.
  • Pengguna obat suntik.
  • Donor dan recipient darah.
  • Orang dengan pekerjaan berisiko tinggi dari infeksi virus hepatitis B, contohnya petugas kesehatan.
  • Berwisata ke negara dengan tingkat tinggi hepatitis B..
Perilaku pencegahan dapat dilakukan dengan cara:
  • Menghindari kontak seksual dengan orang yang memiliki akut atau kronis hepatitis B.
  • Menghindari tatoo dan tindikan.
  • Menghindari berbagi barang pribadi, seperti pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang terinfeksi.
  • Untuk pasien agar menutup  luka  yang  terbuka  agar  darah  tidak  kontak  dengan orang lain.
  • Pasien  tidak  diperbolehkan  mendonorkan  darah,  organ,  ataupun sperma.
Sumber http://pphi-online.org/alpha/?p=560

Monday, 5 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang penyakit hepatitis A

Hepatitis A

 

liver

Hepatitis A adalah peradangan (iritasi dan pembengkakan) pada hati disebabkan oleh virus hepatitis A. Virus ini menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi dengan tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kurangnya air bersih, sanitasi yang tidak memadai dan kebersihan pribadi yang buruk.
Tidak seperti hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak menyebabkan penyakit hati kronis dan jarang berakibat fatal, tetapi dapat menyebabkan gejala yang melemahkan dan sebagian kecil menjadi hepatitis fulminan (gagal hati akut), berhubungan dengan tingkat kematian yang tinggi.
Hepatitis A terjadi secara sporadis dan dalam epidemi di seluruh dunia, dengan kecenderungan untuk kambuh secara siklik. Setiap tahun ada sekitar 1,4 juta diperkirakan kasus hepatitis A di seluruh dunia (WHO, 2012).

  Penyebab, kejadian, dan faktor risiko

Virus Hepatitis A kebanyakan ditemukan dalam tinja dan darah dari orang yang terinfeksi sekitar 15 – 45 hari sebelum gejala terjadi dan selama minggu pertama sakit.
Hal – hal yang dapat menjadi risiko terjangkit hepatitis A:
  1. Mengkonsumsi makanan atau air  yang telah terkontaminasi oleh kotoran (tinja) yang mengandung virus hepatitis A (buah-buahan, sayuran, kerang, es, dan air adalah sumber umum dari virus hepatitis A).
  2. Terjadi kontak dengan tinja atau darah seseorang yang telah terjangkit.
  3. Penderita hepatitis A yang tidak mencuci tangan dengan benar setelah pergi ke kamar mandi dan menyentuh benda-benda lain atau makanan.
Siapapun yang belum divaksinisasi atau belum terjangkit Hepatitis A memiliki resiko yang tinggi. Di daerah di mana virus tersebar luas (endemisitas tinggi), infeksi hepatitis A kebanyakan terjadi pada anak usia dini. Sedangkan faktor risikonya meliputi orang yang:
  1. Bepergian ke daerah dengan tingkat infeksi virus hepatitis A tinggi
  2. Memiliki kesadaran menjaga kebersihan tubuh yang rendah
  3. Tinggal dengan pasien yang terserang Virus Hepatitis A
  4. Melakukan aktivitas oral/anal seks

 

Gejala

Gejala biasanya akan muncul 2 – 6 minggu setelah terkena virus hepatitis A. Gejalanya dapat berupa demam, malaise, kehilangan nafsu makan, diare, mual, ketidaknyamanan perut, urin berwarna gelap dan jaundice (kuning pada kulit dan putih mata). Tidak semua orang yang terinfeksi akan memiliki semua gejala. Gejala yang muncul antara lain:

GejalaAngka Kejadian (%)
Kuning40-80
BAK berwarna seperti teh68-94
Mudah lelah52-91
Malas makan42-90
Nyeri / rasa tidak nyaman pada abdomen37-65
BAB berwarna dempul52-58
Mual dan muntah16-87
Demam atau menggigil32-73
Sakit kepala26-73
Nyeri persendian11-40
Nyeri otot15-52
Diare16-25
Nyeri tenggorokan0-20
 
Tanda dan gejala yang muncul pada anak-anak lebih ringan dan bahkan tidak bergejala, jika dibandingkan dengan orang dewasa. Tanda dan gejala pada orang dewasa dapat bertahan selama 2 hingga 8 minggu.

 

Tanda dan tes

Virus Hepatitis A merupakan virus RNA (bandingkan dengan manusia yang tersusun atas DNA). RNA ini dapat dideteksi pada cairan tubuh dan feses, sehingga dibutuhkan darah dan feses dari pasien untuk menegakkan diagnosis infeksi virus Hepatitis A. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menemukan bahwa anda memiliki hati yang membesar dan melunak. Tes darah dapat menunjukkan:
  1. Peningkatan jumlah antibodi IgM dan IgG terhadap hepatitis A (IgM biasanya positif sebelum IgG).
  2. Peningkatan enzim hati (tes fungsi hati), terutama tingkat enzim transaminase.

 

Pengobatan

Tidak ada pengobatan khusus untuk hepatitis A. Istirahat dianjurkan ketika gejala makin parah. Pengobatan difokuskan pada perbaikan nutrisi dan cairan tubuh yang hilang. Masa pengobatan biasanya memakan waktu beberapa minggu atau beberapa bulan. Dengan harapan tidak terdapat virus yang tersisa dalam tubuh setelah infeksi telah hilang.

 

Komplikasi

Biasanya tidak ada komplikasi. Namun, satu dari seribu kasus Hepatitis A dapat menjadi hepatitis fulminan, yang dapat menyebabkan kematian.

 

Pencegahan

Sanitasi lingkungan yang baik, keamanan pangan, dan imunisasi adalah cara yang paling efektif untuk mencegah hepatitis A. Oleh karena itu untuk mengurangi resiko penyebaran virus, dapat dilakukan dengan cara:
  1. Selalu cuci tangan dengan bersih setelah menggunakan toilet dan setelah anda kontak dengan darah, kotoran, atau cairan tubuh  orang yang terinfeksi.
  2. Hindari makanan dan minuman yang tak terjaga kebersihannya, terutama produk dari susu.
  3. Hindari daging mentah atau yang kurang matang.
  4. Jangan membeli makanan dari PKL yang kebersihannya tak terjaga.
  5. Melakukan vaksinasi hepatitis A (hepatitis B bila perlu) jika belum ada antibodi terhadap Hepatitis A.
  6. Memasak air sampai mendidih adalah metode terbaik untuk menghilangkan virus Hepatits A.
  7. Makanan siap saji agar segera dimakan langsung.
 

 

Vaksinasi

Pencegahan dilakukan menggunakan vaksinasi Hepatitis A atau pun Imunoglobulin. Vaksinasi diberikan kepada orang yang memiliki resiko tinggi terinfeksi virus hepatitis A, sebelum terinfeksi virus hepatitis A. Selain itu, vaksinasi ini juga disarankan bagi pasien dengan infeksi hepatitis lain, seperti hepatitis B dan C.  Vaksin Hepatitis A di Indonesia tersedia dalam dua merk. Keduanya diberikan dengan disuntikkan ke dalam otot, sebanyak 2 kali, dengan selang waktu 6-18 bulan. Efek proteksi vaksin ini pada suntikan pertama dapat mencapai 1 tahun, namun efek proteksi permanen dapat tercapai pada suntikan kedua. Tidak diperlukan booster di kemudian hari apabila telah menyelesaikan vaksinasi sebanyak 2 kali ini.
Imunoglobulin diberikan apabila seseorang belum mendapatkan vaksinasi hepatitis A, namun berada dalam kondisi yang rentan terinfeksi hepatitis A. Imunoglobulin diberikan juga melalui suntikan pada otot, diberikan minimal 2 minggu sebelum berada dalam kondisi yang rentan tersebut, dan memberikan proteksi selama 3-6 bulan. Berbeda dengan vaksinasi, immunoglobulin merupakan imunasisi pasif. Imunoglobulin ini juga dapat diberikan kepada seseorang yang alergi terhadap vaksinasi.
Efek samping dari vaksinasi maupun imunoglobulin pada umumnya adalah nyeri pada tempat penyuntikan dan sakit kepala. Efek samping yang lebih berat jarang terjadi, berupa reaksi anafilaksis. Konsultasikan dengan dokter anda, apabila anda termasuk orang yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami infeksi virus hepatitis A.

Sunday, 4 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang Abses Hati

Abses Hati

 

abses


FAKTA:
  • Insiden abses hati amebik di RS di Indonesia berkisar antara 5-15% pasien pertahun. (i)
  • Penelitian epidemiologi di Indonesia menunjukkan penderita abses hati amebik pada pria memiliki rasio 3,4-8,5 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita. (i)

PENGERTIAN
Apa itu abses hati?
Abses hati merupakan kista berisi nanah yang terdapat di hati. (ii) Prevalensi abses hati yang tinggi erat hubungannya dengan sanitasi yang buruk dan status ekonomi yang rendah. Penyebab abses hati dapat disebabkan oleh infeksi dari bakteri, parasit ataupun jamur. Di negara yang sedang berkembang, abses hati amuba lebih sering didapatkan secara endemik dibandingkan dengan abses hati piogenik. Abses hati piogenik disebabkan oleh infeksi bakteri seperti E. coli, S. Faecalis, P. Vulgaris, dan Salmonella typhi. Sedangkan abses hati amebik disebabkan oleh organisme mikroskopis parasit yaitu E. Histolytica. (iii)

PENYEBAB DAN FAKTOR RISIKO

Apa saja penyebab abses hati?
Penyebab umum:
  • Infeksi saluran empedu (30% -60%): obstruksi empedu dan kondisi peradangan sekunder (misalnya, kolesistitis, choledocholithiasis, dan kolangitis, terutama pada pasien dengan keganasan saluran empedu dengan stent empedu)
  • Infeksi dari organ-organ pencernaan atau organ pelvis melalui sirkulasi portal (24%): contoh termasuk usus buntu, divertikulitis, dan perforasi usus
  • Tidak diketahui (20%)
  • Penyebaran hematogen sekunder dengan bakteremia (15%): infeksi endokarditis, pielonefritis, infeksi mulut yang tidak diobati, semua penyebab gangguan sistem kekebalan tubuh pada anak-anak (misalnya, leukemia)
Patogen penyebab infeksi:
  • Bakteri penyebab paling umum: Escherichia coli, Klebsiella spp., Proteus, Enterococcus, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus faecalis. Streptococcus milleri dan bakteri anaerob lainnya seperti Bacteroides spp. menjadi semakin umum
  • Entamoeba histolytica dapat ditinjau jika pasien baru-baru ini melakukan perjalanan ke daerah tropis atau dari daerah endemik atau HIV-positif
  • Candida albicans adalah kemungkinan patogen pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu
  • Abses hati amebik secara signifikan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita
Penyebab langka:
  • Infeksi sekunder dari abses hati amebik, tumor hati ganas primer dan sekunder
  • Penyebaran infeksi secara langsung dari organ lokal (empiema kandung empedu, abses periternal)
  • Fistula antara hati dan intra-abdominal organ yang terinfeksi, seperti fleksura hepatika pada kolon
  • Tusukan atau luka benda tumpul pada hati
  • Jamur patogen pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu

Apa saja faktor penyebab dan predisposisi abses hati?
  • Radang usus, terutama penyakit Crohn, karena hilangnya integritas barrier mukosa
  • Sirosis hati
  • Transplantasi hati
  • Embolisasi arteri hepatika (pada pasien karsinoma hepatoseluler yang menjalani terapi TACE (Trans Arterial Chemo Embolization))
  • Institusionalisasi (pada lembaga pemasyarakatan, panti wreda, dan lain-lain)
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh
  • Usia yang lebih tua (terutama terkait dengan sepsis bilier)
  • Malnutrisi, keganasan, kehamilan, penggunaan steroid, dan asupan alkohol yang berlebihan merupakan predisposisi pembentukan abses hati (vi)

GEJALA DAN TANDA ABSES HATI
Bagaimana gejala dan tanda awal dari penderita abses hati?
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada amubiasis hati seperti:
- Nyeri perut kanan atas
- Demam
- Anoreksia (nafsu makan menurum)
- Nausea (mual)
- Vomitus (muntah)
- Berat badan menurun
- Batuk
- Pembengkakan perut kanan atas
- Ikterus (kuning pada mata dan kulit)
- BAB berdarah
- Temperatur tubuh naik
- Malnutrisi
- Fluktuasi
- Hepatomegali
Gejala klinis abses hati piogenik pada umumnya hampir sama, namun lebih serius dibandingkan abses hati amebik. Terutama demam yang intermiten (hilang timbul) atau kontinu (terus menerus) yang disertai menggigil. (i)

TES DAN PENGOBATAN
Bagaimana cara mengetahui ada tidaknya abses di hati?
 Tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui keberadaan abses di hati meliputi:
- Abdominal CT scan
- Abdominal ultrasound
- Complete blood count (CBC)
- Liver function tests
- Bilirubin blood test (piogenik)
- Blood culture for bacteria (piogenik)
- Liver abscess aspiration – untuk melihat adanya infeksi bakteri atau amebik pada abses hati.
- Serology for amebiasis (amebik)
- Stool testing for amebiasis (amebik) (v)

Bagaimana pengobatan terhadap penyakit abses hati?
Pengobatan abses hati piogenik biasanya meliputi aspirasi cairan abses dengan menggunakan jarum khusus. Tindakan operasi diperlukan bila abses terlalu besar atau telah timbul perforasi. Selain itu,  juga akan diberikan antibiotik untuk sekitar 4 – 6 minggu. Terkadang, antibiotik saja dapat menyembuhkan infeksi. (v,vi)
Untuk abses hati amebik, pengobatan pada umumnya dengan antibiotik seperti metronidazole atau tinidazol. Selain itu, pengobatan dengan paromomycin atau diloxanide juga dianjurkan untuk eradikasi amuba dalam usus, sehingga mencegah penyakit datang kembali. (iii,vi)

PENCEGAHAN
Apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya abses hati?
Pengobatan yang tepat dari infeksi perut dan infeksi lainnya dapat mengurangi risiko terjadinya abses hati piogenik. (vi)
Untuk abses hati amebik, pencegahan dapat dilakukan dengan meminum air murni dan tidak makan sayuran mentah atau buah dikupas ketika bepergian di negara-negara tropis dengan sanitasi yang buruk. (iii)

Sumber http://pphi-online.orghttp://pphi-online.org/alpha/?p=646

Saturday, 3 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang penyakit sirosis hati

Sirosis Hati

Cirrhosis1
FAKTA:
  • Menurut laporan rumah sakit umum pemerintah di Indonesia, rata-rata prevalensi sirosis hati adalah 3,5% seluruh pasien yang dirawat di bangsal Penyakit Dalam, atau rata-rata 47,4% dari seluruh pasien penyakit hati yang dirawat. (i)
  • Perbandingan prevalensi sirosis pada pria:wanita adalah 2,1:1 dan usia rata-rata 44 tahun. (i)
PENGERTIAN
Apa yang dimaksud sirosis hati?
Sirosis merupakan komplikasi penyakit hati yang ditandai dengan menghilangnya sel-sel hati dan pembentukan jaringan ikat dalam hati yang ireversibel. WHO memberi batasan histologi sirosis sebagai proses kelainan hati yang bersifat difus (hampir merata), ditandai fibrosis dan perubahan benuk hati normal ke bentuk nodul-nodul yang abnormal. (i) Sirosis berbeda dengan fibrosis. Pembentukan nodul tanpa fibrosis, seperti dalam transformasi parsial, bukan merupakan sirosis. (ii)

PENYEBAB
Apa yang menyebabkan sirosis hati?
Di negara berkembang, penyebab utama sisrosis hati adalah virus hepatitis B dan C, selain itu konsumsi alkohol dan autoimun juga mempengaruhi terjadinya sirosis hati. (ii). Penyakit perlemakan hati non alkoholik (nonalcoholic steatohepatitis) NASH, yang lemaknya dalam hepatosit (sel-sel hati)  dapat menyebabkan  komplikasi berupa peradangan atau inflamasi hati atau fibrosis juga dapat menyebabkan terjadinya sirosis kriptogenik (penyebab tidak diketahui pasti). (i)

GEJALA DAN KOMPLIKASI
Apa gejala dan akibat yang ditimbulkan dari sirosis hati?
Gejala dan akibat yang ditimbulkan dapat disebabkan oleh sirosis hati atau karena komplikasinya. Gejala dapat berkembang secara bertahap, atau mungkin tidak terlihat  gejala sama sekali. Ketika timbul gejala, dapat meliputi:
  • Pembengkakan atau penumpukan cairan pada kaki (edema) dan pada perut (ascites).
  • Hipogonadisme, dengan gejala seperti impotensi, infertilitas, hilangnya dorongan seksual, dan atrofi testis (mengecilnya buah zakar).
  • Gynecomastia, proliferasi (pembesaran) jaringan kelenjar payudara pada pria, terlihat seperti karet atau padat yang meluas secara konsentris dari puting. Hal ini disebabkan oleh peningkatan estradiol sebagai akibat sekunder dari sirosis.
  • Spider angiomata atau spider nevi, lesi vaskular terdiri dari arteriola pusat yang dikelilingi oleh pembuluh yang lebih kecil (seperti laba – laba) biasanya pada daerah dada dan punggung.
  • Jaundice, yaitu menguningnya kulit, mata, dan selaput lendir karena bilirubin yang meningkat. Urin juga terlihat menjadi lebih gelap seperti air teh.
  • Gejala lain seperti: Kebingungan atau keterlambatan dalam berpikir, lemah, warna tinja pucat / tinja menjadi hitam, kehilangan nafsu makan, mual & muntah darah, mimisan & gusi berdarah, kehilangan berat badan.
Apa komplikasi yang ditimbulkan dari sirosis hati?
Selain itu sirosis juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang cukup serius diantaranya:
  • Gangguan perdarahan (koagulopati).
  • Penumpukan cairan (ascites) dan infeksi dari cairan di perut (peritonitis bacterial spontan).
  • Pembesaran pembuluh darah (varises) di perut, kerongkongan, atau usus yang mudah berdarah.
  • Peningkatan tekanan dalam pembuluh darah hati (hipertensi portal).
  • Gagal ginjal akibat sirosis (sindrom hepatorenal).
  • Gangguan paru-paru akibat sirosis (sindrom hepatopulmonae).
  • Kanker hati (hepatocellular carcinoma).
  • Gangguan mental seperti kebingungan sampai perubahan tingkat kesadaran, dan koma (hepatic encephalopathy).[iii]
TES DAN PENGOBATAN
Pemeriksaan apakah untuk mendiagnosis sirosis hati?
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahi terjadinya sirosis hati diantaranya:
  • Pemeriksaan laboratorium – Pada pemeriksaan ini dapat diketahui perubahan enzim transaminase (AST dan ALT) yang menjadi salah satu penanda adanya peradangan atau kerusakan hati akibat berbagai penyebab, termasuk sirosis. Selain itu juga dapat diketahui kadar albumin, faktor-faktor pembekuan darah, jumlah zat besi, dan autoantibodi yang juga perubahannya dapat menjurus ke sirosis.
  • Pencitraan – Pemeriksaan ini menggunakan alat, salah satunya USG, CT (computerized tomography), MRI (magnetic resonance imaging) dan transien elastography (FibroScan®). Pada pemeriksaan ini dapat ditemukan hepatomegali, nodul dalam hati, splenomegali, dan cairan dalam abdomen, yang dapat menunjukkan sirosis hati. (i)
  • Biopsi – yaitu pengambilan sampel kecil dari sel-sel hati yang diambil dan diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Pengambilan sampel hati dengan cara memasukkan jarum halus di antara tulang rusuk kemudian ke hati. Biopsi tidak hanya dapat memastikan adanya sirosis, tetapi juga dapat mengungkapkan penyebabnya.
  • Endoskopi (gastroscopy) – yaitu dengan memasukkan kamera video ke tubuh pasien melalui kerongkongan kemudian turun ke lambung & usus kecil. Dokter akan melihat bagian dalam perut pada layar, untuk melihat adakah pembuluh darah yang membesar (varises) di kerongkongan, lambung dan usus kecil, yang merupakan tanda – tanda dari sirosis.(iv)
Bagaimanakah pengobatan sirosis?
Pada umumnya sirosis hati tidak dapat disembuhkan, namun pengobatan dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan hati lebih lanjut, mengobati komplikasi sirosis, mencegah kanker hati atau deteksi sedini mungkin dan transplantasi hati. (i)

PENCEGAHAN
Bagaimanakah tindakan pencegahan untuk orang yang sehat?
Ada beberapa cara untuk mengurangi resiko terkena sirosis hati, yaitu:
  • Hindari alkohol.
  • Melakukan vaksinasi Hepatitis B.
  • Menghindari kontak seksual dengan penderita hepatitis B akut atau kronis.
  • Menghindari tatoo dan tindikan.
  • Menghindari berbagi barang pribadi, seperti pisau cukur atau sikat gigi dengan orang yang terinfeksi.
  • Makan yang seimbang, diet rendah lemak dan mengkonsumsi vitamin. (iii)

Sumber dari : http://pphi-online.org

Friday, 2 August 2013

Mengedukasi masyarakat tentang penyakit hepatitis

Hepatitis ..... apa sih hepatitis itu ?, penyebabnya bagaimana sih ?, ragam macam virusnya apa aja sih ?, untuk pencegahannya bagaimana ?, kata-kata seperti itu sering terlontar dari orang-orang awam seperti kita dan kadang kita sering melupakan dan mengecilkan arti menjaga kesehatan seperti hal-hal yang kecil saja, cuci tangan sebelum kita memegang makanan yang akan kita makan, kita tidak perduli apakah tangan kita bersih apa kotor, secara kasat mata tangan kita bersih tapi apabila diselidiki terkumpul beribu-ribu bakteri yang menimbulkan berbagai macam penyakit ...

Dari hal kecil seperti itulah kita sering menyepelekan arti kebersihan yang mana untuk menjaga tubuh kita selalu bersih dan sehat serta terhindar dari berbagai macam penyakit.


Di masyarakat kita pada umumnya masih kurang bahkan minim mengetahui apa itu hepatitis, kadang masyarakat kita tidak mau bertanya atau mengetahui lebih dalam lagi untuk mengetahui penyakit Hepatitis, semoga melalui sepenggal tulisan ini, para netter dan masyarakat luas umumnya mau lebih banyak lagi mengetahui tentang Hepatitisdan bertanya kepada ahlinya sehingga para ahli dibidangnya (Hepatitis) dapat Mengedukasi masyarakat tentang penyakit hepatitis (Penyebab, Tanda & Gejala, Dianogsis, Pengobatan, Pencegahan) dan Memberikan pengetahuan, serta mengubah perilaku & menghilangkan stigmata penyakit Hepatitis di masyarakat, sehingga diantara kita dapat Menyebar luaskan Informasi tentang Penyakit Hepatitis.

Penyebab Hepatitis

Penyebab hepatitis biasanya terjadi karena adanya infeksi atau terdeteksi adanya virus yang bersarang pada tubuh. Penyebab hepatitis banyak sekali yang pada umumnya memang disebabkan karena adanya virus seperti dari tipe hepatitis A, B, C, D atau E. Penyebab lainnya juga dapat disebabkan oleh adanya infeksi virus yang bernama mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab non virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.
Penyebab hepatitis timbul dari awal mula dilihat dari segi kebersihan lingkungan dan bagaimana manusia itu sendiri menjaga kebersihan diri dan lingkungan disekitar mereka tinggal baik di lingkungan rumah dan tempat dimana bekerja.

Berikut ini ada beberapa penyebab dari hepatitis yang dilatar belakangi adanya virus dari tiap tipe atau jenis hepatitis itu sendiri :

1. Virus Hepatitis A ( VHA)
Penyebaran dan penularan dari virus hepatitis A ini mudah sekali untuk dikenali dan hepatitis A ini merupakan salah satu jenis hepatitis ringan. Infeksi virus hepatitis A (VHA) umumnya tidak sampai melukai yang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan fungsi hati (liver) menjadi parah atau kronis. Kebanyakan dari mereka yang terkontaminasi virus hepatitis A ini penularan dapat melalui feses akibat buruknya tingkat kebersihan, selain melaui feses penularan juga dapat terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A ini.
Gambar : virus hepatitis A
2. Virus Hepatitis B
Hepatitis B adalah salah satu jenis hepatitis yang cukup berbahaya dari jenis hepatitis lainnya. Hepatitis B menduduki tingkat 10 % untuk kasus yang paling banyak seseorang yang menderita hepatitis B yang kemudian akan berkembang menjadi hepatitits akut atau kronis. Hepatitis B dapat timbul karena adanya infeksi virus yang dibawa dari hepatitis B itu sendiri atau yang lebih dikenal dengan istilah Virus Hepatitis B (VHB).
Namun umumnnya mereka yang terserang hepatitis B ini tidak mengalami gejala-gejala medis yang begitu nyata, seperti adanya kelainan dan atau gangguan kesehatan lainnya. Orang tersebut dapat dikatakan sebagai pembawa VHB atau carrier VHB. Seseorang yang memiliki carrier atau pembawa virus hepatitis B atau VHB ini sebenarnya memiliki sistem pertahanan tubuh yang cukup baik sehingga virus hepatitis B menjadi tidak aktif, VHB yang tidak aktif akan menyebabkan mekanisme pertahanan tubuh tidak dapat mengenalinya sebagai musuh sehingga sistem imun tubuh tidak melakukan perlawanan, namun keadaan akan berbalik apabila pertahanan tubuh menurun, maka akan memberikan peluang pada virus hepatitis B ini untuk berkembang dan kemudian akan memperlihatkan gejala nyata pada hepatitis.

Gambar : virus hepatitis B
Virus hepatitis B yang semakin berkembang akan menjadi hepatitis akut atau kronis dan keadaan ini akan semakin memperburuk keadaan hepatitis dan pada akhirnya akan terjadi sirosis (kerusakan fungsi hati), dan kanker hati yang dapat mengakibatkan kematian. Virus hepatitis B ini dapat ditularkan melalui darah, air liur, air susu ibu, cairan vagina atau sperma, jarum suntik yang dipakai secara bergantian, gunting kuku yang digunakan secara bergantian, pisau cukur bahkan sampai melalui hubungan seksual.

3. Virus Hepatitis C
Penularan yang disebabkan karena adanya virus hepatitis C paling sering ditularkan melalui pemakaian obat yang menggunakan jarum suntik dan digunakan bersama-sama. Kebanyakan terjadi pada mereka yang memiliki riwayat penyakit gangguan fungsi hati dan alkoholik yang menyebabkan menderita hepatitis C.
Diketahui sekitar 80 % infeksi virus hepatitis C ini berkembang menjadi hepatitis kronis yang dapat menyebabkab sirosis atau kerusakan fungsi, perdagangan fungsi jati yang semakin berat sampai terjadi kanker hati.
Gambar : penyebaran virus heptitis C

4. Virus Hepatitis D
Hepatitis D merupakan adaptasi dari hepatitis B, yang dilatar belakangi oleh adanya virus hepatitis D atau VHD yang ukurannya sangat kecil dan sangat tergantung pada virus hepatitis B, virus hepatitis D ini memerlukan selubung atau jaringan dari virus heptitis B yang dapat melukai sel-sel hati (liver). Gejala dari hepatitis D ini sama dengan gejala hepatitis B.
Gambar : virus heptitis D
Seseorang yang terjangkit virus hepatitis B dan D akut secara bersamaan, namun sebagian besar dapat sembuh dengan sendirinya tergantung dari pertahanan tubuh untuk melawan virus hepatitis B. Penderita hepatitis B bila sudah terkena atau terjangkit hepatitis D akut dapat berubah menjadi kronis yang kemudian akan mengakibatkan sirosis atau kerusakan fungsi hati dalam jangka waktu yang relatif singkat. Penderita hepatitis D ini banyak ditemukan pada mereka pecandu obat-obatan terlarang.

(source : http://penyebabhepatitis.com)
 
www.e-referrer.com