Mentari pagi telah menunjukan jati dirinya, tepat pukul 05:30 pagi waktu Kota Udang kami dari Seputar Jalan Jalan telah siap menjelajahi wilayah Kota Udang khususnya wilayah tempat Seputar Jalan Jalan menginap. Konon menurut cerita dari orang-orang yang sering mengunjungi Kota Udang tepatnya di Jalan Siliwangi banyak para pedagang makanan pagi menjajakan kuliner khas Kota Udang di sepanjang jalan Siliwangi.
Tepat diujung jalan (mengarah ke selatan) ada sebuah tempat masyarakat kota ini untuk melakukan kegiatan di hari liburnya baik hari sabtu maupun minggu, tepatnya di Alun Alun Kejaksan, untuk berolah raga tidak jauh beda dengan di Jakarta (GOR Bung Karno) selain banyak masyarakat Jakarta yang berolah raga dan banyak pula para penjaja kuliner pagi menjajakan jajanan pagi, begitu juga di Aun-Alun Kejaksan ini beraneka jajanan khas kota ini dijajakan.
Seputar Jalan Jalan tidak menelusuri di Alun Alun tetapi menelusuri di sepanjang jalan Siliwangi, ada satu penjaja kuliner di tepi jalan yang ramai dikerumuni oleh orang-orang baik muda maupun orang tua, dan ternyata adalah makanan pagi khas Kota Udang yaitu "Nasi Jamblang", eit jangan salah tangkap dulu nieh bukannya buah jamblang dicampur nasi yah ??, sejauh ini Seputar jalan jalan belum mendapatkan maksudnya kenapa dinamakan Nasi Jamblang atau tidak dinamakan "nasi rames, atau apalah", kalau Di jakarta makanan pagi seperti di Kota Udang ini "Nasi Uduk dan Nasi Ulam" kuliner khas Betawi.
Nasi Jamblang memang agak risih didengarnya karena di Jakarta Jamblang adalah nama buah yang kalau sudah matang berwarna hitam kulitnya dan rasanya manis asam dan mengeluarkan cairannya yang berwarna ungu, tetapi di Kota Udang ini lain Nasi Jamblang dengan kemasannya memakai piring terbuat dari rotan dan dilapisi oleh daun jati. Emmmm ...... dan lauknyapun beraneka ragam, ada sambal ati, goreng, ada daging rendang, ikan pepes, dll. Untuk harga ? jangan kuatir karena harga kuliner Nasi Jamblang ini tidak begitu menguras isi kantong dalam-dalam hanya cukup mengeluarkan antara 5000-10000 rupiah saja (tergantung menu yang kita ambil).
Cara menyajikan dagangannya tidak jauh berbeda seperti angkringan di Malioboro maupun yang pernah Seputar Jalan Jalan kupas di Malioblok-M, hanya saja penyajian angkringan Kota Udang ini masih tradisional sekali dan ciri khas daerahnya masih lekat sekali.
Memang beda rasa dan aromanya makan nasi jamblang yang beralaskan daun jati, emmm .... mau coba ?, datang saja ke kota Udang tepatnya di sepanjang jalan Siliwangi (di pagi hari dan sore). Seputar Jalan Jalan pernah menjumpai makanan khas Kota Udang ini ada di Jakarta tetapi tidak se-khas di kota asalnya, mungkin rasa dan macamnya sama yang membedakannya adalah kemasan tempat makannya itu (di Jakarta menggunakan piring pada umumnya, di kota asalnya dengan menggunakan piring yang terbuat dari rotan yang berlapiskan daun jati).
Selain Nasi Jamblang kami dari seputar Jalan Jalan mencicipi satu lagi khas kuliner Kota Udang yaitu "Empal gentong" sesuai dengan namanya memang, memasaknya menggunakan gentong dan sejauh ini sudah jarang sekali warung warung yang menjajakan kuliner ini menggunakan gentong untuk memasaknya dan sudah diganti dengan panci alat rumah tangga pada umumnya, memang unik kalau kita menjumpai warung warung kuliner yang masih menggunakan peralatan masaknya yang sesuai dengan namanya. Dengan kemajuan jaman memang sudah banyak berubah dan ada sedikit kecewa Seputar Jalan Jalan karena empalnya sudah tidak lagi dipotong melebar dan tipis tetapi kini sudah berbentuk dadu jadi berbeda tapi untuk rasa tidak hilang dan masih TOP, terutama bumbunya itu yang aroma rasanya bisa menusuk hidung kalau berlebihan dan rasanya pedas, itu belum ditambah dengan sambal bagaimana kalau ditambah sambal lagi ???
Khas kuliner Kota Udang masih bisa dikatakan dalam penyajiannya dan memasaknya masih secara tradisional, tidak hilang dari aselinya (yang Seputar Jalan Jalan jumpai). Masih ada lagi yang belum sempat Seputar Jalan Jalan ceritakan disini masih diseputar kuliner Kota Udang yaitu "Nasi Lengkong".
Tunggu yah n tetap hang-out di blog Seputar Jalan Jalan.
(Maaf Seputar jalan Jalan tidak bisa menampilkan foto-fotonya di blog ini dari segi peralatan yang digunakannya untuk memasak dan dalam penyajiannya, karena dokument yang dimiliki Seputar Jalan Jalan terkena virus sehingga tidak bisa terselamatkan datanya/fotonya)
Tepat diujung jalan (mengarah ke selatan) ada sebuah tempat masyarakat kota ini untuk melakukan kegiatan di hari liburnya baik hari sabtu maupun minggu, tepatnya di Alun Alun Kejaksan, untuk berolah raga tidak jauh beda dengan di Jakarta (GOR Bung Karno) selain banyak masyarakat Jakarta yang berolah raga dan banyak pula para penjaja kuliner pagi menjajakan jajanan pagi, begitu juga di Aun-Alun Kejaksan ini beraneka jajanan khas kota ini dijajakan.
Seputar Jalan Jalan tidak menelusuri di Alun Alun tetapi menelusuri di sepanjang jalan Siliwangi, ada satu penjaja kuliner di tepi jalan yang ramai dikerumuni oleh orang-orang baik muda maupun orang tua, dan ternyata adalah makanan pagi khas Kota Udang yaitu "Nasi Jamblang", eit jangan salah tangkap dulu nieh bukannya buah jamblang dicampur nasi yah ??, sejauh ini Seputar jalan jalan belum mendapatkan maksudnya kenapa dinamakan Nasi Jamblang atau tidak dinamakan "nasi rames, atau apalah", kalau Di jakarta makanan pagi seperti di Kota Udang ini "Nasi Uduk dan Nasi Ulam" kuliner khas Betawi.
Nasi Jamblang memang agak risih didengarnya karena di Jakarta Jamblang adalah nama buah yang kalau sudah matang berwarna hitam kulitnya dan rasanya manis asam dan mengeluarkan cairannya yang berwarna ungu, tetapi di Kota Udang ini lain Nasi Jamblang dengan kemasannya memakai piring terbuat dari rotan dan dilapisi oleh daun jati. Emmmm ...... dan lauknyapun beraneka ragam, ada sambal ati, goreng, ada daging rendang, ikan pepes, dll. Untuk harga ? jangan kuatir karena harga kuliner Nasi Jamblang ini tidak begitu menguras isi kantong dalam-dalam hanya cukup mengeluarkan antara 5000-10000 rupiah saja (tergantung menu yang kita ambil).
Cara menyajikan dagangannya tidak jauh berbeda seperti angkringan di Malioboro maupun yang pernah Seputar Jalan Jalan kupas di Malioblok-M, hanya saja penyajian angkringan Kota Udang ini masih tradisional sekali dan ciri khas daerahnya masih lekat sekali.
Memang beda rasa dan aromanya makan nasi jamblang yang beralaskan daun jati, emmm .... mau coba ?, datang saja ke kota Udang tepatnya di sepanjang jalan Siliwangi (di pagi hari dan sore). Seputar Jalan Jalan pernah menjumpai makanan khas Kota Udang ini ada di Jakarta tetapi tidak se-khas di kota asalnya, mungkin rasa dan macamnya sama yang membedakannya adalah kemasan tempat makannya itu (di Jakarta menggunakan piring pada umumnya, di kota asalnya dengan menggunakan piring yang terbuat dari rotan yang berlapiskan daun jati).
Selain Nasi Jamblang kami dari seputar Jalan Jalan mencicipi satu lagi khas kuliner Kota Udang yaitu "Empal gentong" sesuai dengan namanya memang, memasaknya menggunakan gentong dan sejauh ini sudah jarang sekali warung warung yang menjajakan kuliner ini menggunakan gentong untuk memasaknya dan sudah diganti dengan panci alat rumah tangga pada umumnya, memang unik kalau kita menjumpai warung warung kuliner yang masih menggunakan peralatan masaknya yang sesuai dengan namanya. Dengan kemajuan jaman memang sudah banyak berubah dan ada sedikit kecewa Seputar Jalan Jalan karena empalnya sudah tidak lagi dipotong melebar dan tipis tetapi kini sudah berbentuk dadu jadi berbeda tapi untuk rasa tidak hilang dan masih TOP, terutama bumbunya itu yang aroma rasanya bisa menusuk hidung kalau berlebihan dan rasanya pedas, itu belum ditambah dengan sambal bagaimana kalau ditambah sambal lagi ???
Khas kuliner Kota Udang masih bisa dikatakan dalam penyajiannya dan memasaknya masih secara tradisional, tidak hilang dari aselinya (yang Seputar Jalan Jalan jumpai). Masih ada lagi yang belum sempat Seputar Jalan Jalan ceritakan disini masih diseputar kuliner Kota Udang yaitu "Nasi Lengkong".
Tunggu yah n tetap hang-out di blog Seputar Jalan Jalan.
(Maaf Seputar jalan Jalan tidak bisa menampilkan foto-fotonya di blog ini dari segi peralatan yang digunakannya untuk memasak dan dalam penyajiannya, karena dokument yang dimiliki Seputar Jalan Jalan terkena virus sehingga tidak bisa terselamatkan datanya/fotonya)
0 comments:
Post a Comment