Seperti kita ketahui berdasarkan data Surveilans Nasional Hepatitis C Direktorat Jendral PP&PL pada Oktober 2007 – September 2009, diperkirakan 1-2% populasi Indonesia atau sekitar 3,4 juta orang telah terinfeksi virus Hepatitis C. Namun hanya sebagian kecil yang ditanggung biaya terapinya oleh ASKES, dan sebagian besar masih harus membiayai pengobatan Hepatitis C secara mandiri. Tingginya biaya terapi seringkali membuat pasien menunda bahkan tidak mendapatkan pengobatan, padahal standar terapi Hepatitis C Kronik saat ini dengan Pegylated Interferon dan Ribavirin dapat memberikan angka kesembuhan yang cukup tinggi terutama pada populasi Asia.
Dalam rangka meningkatkan akses terapi bagi pasien Hepatitis C yang kurang mampu ini, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) berinisiatif mengusahakan keringanan biaya untuk pengobatan Hepatitis C bagi pasien kurang mampu. Inisiatif ini terselenggara melalui kerja sama dengan sektor swasta, PT Roche Indonesia, sebagai wujud komitmenbersama dalam upaya eradikasi Hepatitis C di Indonesia. Melalui Program PEGASSIST yang berjalan resmi sejak 22 Oktober 2012 ini, pasien kurang mampu akan menerima subsidi Pegasys (pegylated interferon alfa-2a) selama durasi terapi yang dijalankan.
Berikut adalah ketentuan program PEGASSIST :
- Program tersedia untuk Pasien Hepatitis C yang kurang mampu berdasarkan rekomendasi dokter.
- Program tidak dapat diberikan pada Pasien Hepatitis C yang ditanggung perusahaan / institusi.
- Program dapat diberikan oleh semua dokter (KGEH, internis GP)
- Skema subsidi untuk semua Pasien Hepatitis C kurang mampu:
- Genotipe 1/4: pasien mendapatkan subsidi 12 Pre-filled syringe (PFS) di 3 bulan terakhir dari terapi dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a) (suntikan ke-37 s.d. 48)
- Genotipe 2/3: pasien mendapatkan subsidi 6 Pre-filled syringe (PFS) di 1,5 bulan terakhir dari terapi dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a) (suntikan ke-19 s.d. 24)
- Pemeriksaan laboratorium gratis untuk pasien Hepatitis C kurang mampu yang menjalani pengobatan dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a):
- 1x HCV RNA test + 1x HCV genotype test di Baseline (sebelum terapi).
- 1x HCV RNA test 6 bulan post-therapy (6 bulan setelah terapi selesai untuk mengukur SVR).
Rekan sejawat yang merekomendasikan pasien kurang mampu untuk terapi dengan Pegasys (pegylated interferon alfa-2a), dapat menginformasikan tentang ketersediaan program PEGASSIST serta menginformasikan calon penerima PEGASSIST tersebut ke perwakilan PT Roche Indonesia untuk ditindaklanjuti.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Erin (0818188285)
Sumber : http://pphi-online.org
0 comments:
Post a Comment