Perjalanan sore ini Seputar Jalan Jalan menggunakan kereta api "Cirex" alias Cirebon Express dari gambir jam 18:00 sore, namanya saja "cirex", sampai di kota tujuan tetap saja suka molor satu jam, tetapi untuk kali ini on time sampai ditujuan.
Sesampai di stasiun Cirebon sambutan hangat banyak datang dari si-Abang becak yang menawarkan jasanya dan berbagai taxi dan tukang ojek, akhirnya Seputar Jalan Jalan memilih naik becak, tawar-tawar menawarpun akhirnya deal dengan harga 3000 rupiah.
Seputar Jalan jalan minta diantarkan ke hotel X di jalan XY, dalam perjalanan yang hanya 3 menit tidak disia-siakan oleh si-Abang becak ini, karena Seputar Jalan Jalan sampai di Kota Udang pukul 21:00 malam si-Abang becakpun menawarkan jasa lainnya yaitu : teman atau tukang pijit (plus...plus...plus...).
(Tidak heran memang Kota Udang ini adalah salah satu kota transit menuju Jawa Tengah bagi yang menggunakan jalan darat, dan tidak heran juga banyak hotel-hotel yang cukup dibilang murah dan nyaman sekelas Hotel Melati dengan harga dari mulai 50 ribu-200 ribuan)
Ternyata bukan hanya disalon plus plus saja yang menawarkan jasa seperti ini (plus album photo) si-Abang becak inipun ternyata komplit dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternyata album photo yang berisikan teman tidur/ngobrol or tukang pijat plus...pluss...
Dan bukan itu saja ternyata si Abang becak ini mempunyai database wanita panggilan , secara tidak sengaja Seputar Jalan Jalan iseng menanggapinya dan si-Abang becakpun meresponnya dengan cepat dan serius. Akhirnya tujuan Seputar Jalan Jalan ke hotel X sampai dan si-Abang becak ini pun ikut masuk ke kamar kami. Akhirnya Seputar jalan Jalan tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengambil/mengorek keterangan dari si-Abang becak ini.
Si-Abang becakpun menceritakan bahwa kalau mengandalkan dari menarik becak saja tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidupnya, dengan adanya proyek ini dia bilang mencukupi kebutuhan hidupnya. Si-Abang becak mendapatkan tip dari siwanita yang dipanggilnya untuk tamu sebesar 30-50 ribu rupiah, tergantung tarif yang disepakati oleh si wanita dan si tamunya, dan kadang si Abang becak ini minta uang untuk pengganti pulsa dari si pemesannya/tamunya, yang pulsanya terpakai untuk menelpon si wanita yang dimaksud itu. Semalam kadang si-Abang becak ini mendapatkan penghasilan sampingannya lumayan besar juga antara 100-300 ribu rupiah, tergantung orderannya, si-Abang becak inipun bicara kalau sepi paling dapat 100 ribu untuk semalaman.
Akhirnya si-Abang becakpun membeberkan semuanya tentang wanita yg menjadi pegangannya , tarifnya ada yang 150-300 untuk short time si-Abang becakpun bilang tergantung si tamunya kalau pintar menawar akan mendapatkan harga yang murah serta mendapatkan teman tidur yang cantik dan bahenol (kaya beli buah-buahan di pasar tradisional saja ...., he...he....)
Tidak hanya itu saja si-Abang becak inipun menerangkan hotel-hotel mana saja yang aman untuk kencan dgn wanitanya dan si-Abang becakpun tahu hotel mana saja yang sering dirazia oleh "TRANTIB", hingga sampai hari dan jam penertibannya. (heubat eeuuyy si-Abang becak ini ...)
Omong punya omong Seputar Jalan Jalan lelah dan berusaha mengakhiri obrolan dengan si-Abang becak ini dengan lugas dan tegas Seputar Jalan Jalan menjawab "Maaf saya capek mau istirahat n lain kali saya telepon Abang", dan diapun menyodorkan no hp-nya yang dapat dihubungi, tidak lupa Seputar Jalan Jalan memberikan uang obrolan sebesar 10 ribu rupiah plus ongkos becak dilebihkan sedikit menjadi 5000 dari tawaran pertama sebesar 3000 rupiah.
Malam semakin larut akhirnya Seputar Jalan Jalan keluar hotel untuk mencari makanan yang bisa mengganjal perut yang lapar ini, akhirnya tepat didepan hotel ada warung soto ayam akhirnya Seputar Jalan Jalan memutuskan untuk makan di warung soto ayam, beda memang dengan kehidupan malam di Jakarta, kalau di Jakarta diramaikan oleh hiruk pikuknya para pengunjung dengan kendaraan roda empatnya kalau di Kota Udang banyak yang menggunakan sepeda motor or jasa angkutan becak.
Dan tidak separah di Kota Jakarta dengan macetnya, di Kota Udang cukup lenggang dan benar-benar lenggang sekali jalanannya tetapi untuk di tempat warung makanan jangan ditanya dan tidak kalah ramainya dengan yang ada di sepanjang jalan Fatmawati Jakarta Selatan.
Perut sudah kenyang dan gairah ingin mengetahui kehidupan malam di Kota Udangpun tergugah kembali dan rasa capek dan ngantukpun hilang dengan keinginan tahuan Seputar Jalan Jalan tentang kehidupan malam di Kota Udang khususnya di Jalan XY. Benar memang apa yang dikatakan si-Abang becak tadi disepanjang jalan ini banyak para ABG or wanita-wanita malam yang duduk-duduk sambil merokok menanti tamunya yang mengajaknya bermalam atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja di lokasi si wanita tsb nongkrong.
Akhirnya Seputar Jalan Jalan dihampiri oleh salah satu wanita tsb, sebut saja namanya "EM" tinggi 170 cm, usia 27 thn (mengakunya he...he...) dia bercerita kepada Seputar Jalan Jalan mengenai dirinya dan tempat serta disepanjang jalan ini, Mba Em dulunya ngetem di satu tempat tepatnya di Indramayu karena kalah saingan dan pendapatannya sedikit akhirnya dia memutuskan mengambil jalan sendiri dan keluar dari kelompok tersebut dan Mba Em akhirnya ngetem / nongkrong disepanjang jalan ini.
Tapi dia juga menyebarkan no hp-nya kepada si-Abang becak yang ada disepanjang jalan ini maupun di terminal bus dan di stasiun kereta api. (ternyata benar cerita si-Abang becak kepada Seputar Jalan Jalan tadi) Mba Em memasang tarif sebesar 150 ribu rupiah untuk short time dan dia sangat hati-hati sekali untuk memilih tempat kencannya, biasanya dia kalau tempat yg bukan menjadi rujukannya Mba Em tidak mau dan Mba Em akan merujuk tempat yang menurut dia aman, lalu Seputar Jalan Jalan menanyakan, kenapa begitu Mba Em ?, dengan singkat dan lugas dia menjawab "takut digerebek/digaruk oleh trantib" kalau di hotel yang Mba Em rujuk dapat diandalkan keamanannya katanya singkat dan menjamin 100% aman.
Wah .....tambah seru juga nieh obrolan.
Tanpa terasa pagipun mendekati obrolan kami dan akhirnya kami akhiri dengan mengerluarkan selembaran 20 ribuan dan beberapa batang rokok sampoerna mild kami Mba Em ambil, Mba Em pun berjanji akan memberikan keterangan selanjutnya tentang dirinya, kenapa harus menjajakan dirinya dan juga tentang tempat dan jalan ini serta si-Abang becak yang ada disepanjang jalan ini dan yang di terminal bus dan di stasiun kereta api.
Mba Em pun pergi meninggalkan kami sambil memberikan secarik kertas yang isi tulisannya no hp Mba Em (Seputar Jalan Jalanpun memberikan nomor hp yang dapat dihubungi oleh Mba Em). Seputar Jalan Jalan katanya akan dihubungi untuk melanjutkan ceritanya esok malam ditempat yang sama.
0 comments:
Post a Comment