Pages

Tuesday, 1 December 2009

Menyaksikan Pemotongan Dan Pembagian Hewan Qurban di Desa Kalong

Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, bahasa Arab: عيد الأضحى) adalah sebuah hari Raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan shalat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah shalat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.

Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji. Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim.

Penetapan Idul Adha

Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:

«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»

Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya”).

Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Apalagi Nabi Muhammad juga telah menegaskan hal itu. Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:

«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ e أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»

Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).

Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada amir Makkah.

------- (suntingan dari wikipedia)


Demikian suntingan mengenai Idul Adha, kali ini Seputar Jalan Jalan diundang untuk menyaksikan pemotongan hewan Qurban dan pembagian daging Qurban yaitu di Desa Kalong, Bogor.

Seputar Jalan Jalan bertanya kepada salah satu warga di Desa ini, siapa yang mengadakan pemotongan hewan Qurban di Desa ini. Kalau dilihat dari perekonomian penduduk sekitar Desa Kalong memang masih dibawah UMR, hampir 75%  bercocok tanam dan 20% berdagang, 5% merantau ke kota Jakarta.

Informasi yang diberikan kepada kami, ternyata ada seorang hamba Allah yang tidak mau dipublikasikan namanya, yang memang sudah rutin setiap tahunnya mengadakan pemotongan hewan Qurban di lDesa Kalong ini. Dan bukan hanya menjalankan kegiatan di Idul Adha saja tetapi ada beberapa anak yang tidak mampu diangkat menjadi anak asuhnya dan ada satu cita-citanya yang sangat luhur yaitu : ingin membangun Pesantren di desa ini agar warga desa yang tidak mampu dapat terus bersekolah dan tidak kemungkinan untuk siapa saja yang ingin belajar di Pesantrennya. Banyak kegiatan-kegiatan yang serupa rutin dijalankan oleh Dermawan tersebut bersama teman-temannya.

Tahun ini hewan Qurban yang akan disembelih ada 3 ekor sapi dan 20 ekor domba.


Kami sangat kagum akan kebersamaannya warga desa ini, bahu membahu membuat tempat untuk penempatan hewan Qurban yang telah disembelih. Dan mungkin di Jakarta sudah sulit kebersamaan seperti ini, dan mungkin kalaupun ada harus dengan berbayar alias diberi upah.




 

Dan sempat terpikir oleh kami kenapa warga Jakarta yang mampu tidak terpikirkan seperti hamba Allah  yang ada di Desa Kalong ini ?, karena kalau dilihat dari segi pembagian hewan Qurban sangat tepat sasarannya (kaum yang tidak mampu).

Dari anak-anak hingga lansia sangat antusias sekali dengan adanya pemotongan hewan qurban yang setiap tahun diadakan di desa ini, dan sempat kami menanyakan ada berapa desa yang mendapatkan kupon hewan Qurban, informasi yang kami dapat ada 3 desa. Dan kupon daging Qurban ini disebar/dibagikan kepada yg berhak menerimanya kurang lebih 1000 kupon


 

Semoga kegiatan seperti ini akan tetap berlangsung dan semakin besar tentunya, dan semoga hamba Allah yg tidak mau dipublikasikan namanya, selalu mendapatkan rahmatNYA dan semoga untuk warga sekitarnya dapat mensyukuri apa yang selama ini didapatkannya dan selalu menjaga kerukunan dan kebesamaannya antar sesama warga di sekitarnya.

Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari pengalaman ini, semoga saja bagi kaum muda dan yang mampu dapat melaksanakan kegiatan seperti ini dengan tepat sasarannya sehinga Qurbannya tidak sia-sia dan tidak mubajir, dan yang tentunya IKHLAS ..... !!!

 

 

 

Related Post:

0 comments:

Post a Comment

 
www.e-referrer.com