Pages

Monday, 30 November 2009

Seputar Jalan Jalan Berwisata Alam Di Kaki Langit

Seputar jalan jalan menelusuri perjalanan ke wilayah Bogor tepatnya kearah barat (Desa Kalong). Perjalanan di mulai dari Pondok Labu, seputar jalan jalan sengaja mengambil jalan melewati  Cinere, disepanjang jalan Cinere perjalanan tidak nyaman karena sedang ada perbaikan jalan tepatnya yang menunju ke arah Masjid Kubah, disisi kanan jalannya sudah di beton hotmix tetapi disebelah kirinya masih jalan yang asli yang disisinya masih banyak besi-besi beton yg menjorok kekiri jalan kalau saja para pengendara tidak hati-hati akan terjerembab oleh besi beton tersebut.

Memasuki wilayah Sawangan aroma jalanan di ramaikan oleh harumnya aroma buah durian, di sisi kanan maupun kiri jalan banyak pedagang durian berjejer menjajakan dagangannya. Memasuki wilayah Parung terasa sudah macet tepatnya dipasar parung, macet karena angkot sembarangan berhenti mencari penumpang atupun menurunkan penumpang kurang lebih ½ jam baru dapat lepas dari kemacetan. Menuju kearah Bogor tepatnya melewati KOMPLEK A.U. ATANG SANJAYA jalanan lenggang tidak semacet di Parung.

Memasuki wilayah Leuwiliang perjalanan terasa sejuk, kanan kiri dipenuhi oleh hijaunya pepohonan dan persawahan memang tidak sehijau dulu karena sudah banyak bangunan yg berdiri, dari persawahan diganti dengan pertokoan.




 

Ternyata alam Indonesia sungguh indah, hijaunya ladang, sawah dan pegunungan membuat hati sejuk dan pikiran lebih fresh …..  terasa benar-benar menikmati perjalanan walaupun badan mulai terasa pegal-pegal karena seputar jalan jalan menggunakan kendaraan roda dua alias motor tetapi tidak menyurutkan semangat karena terpacu oleh keindahan alam disekitarnya dan keramah tamahan penduduknya.







Dari desa Cibokor Seputar jalan jalan memotong jalan melewat jalan setapak, jalan yg licin yg habis diguyur oleh hujan. Dari jalanan inilah seputar jalan jalan dapat menikmati indahnya alam Bogor, dengan view yang sangat indah sekali. Sesampainya di lokasi apa yang kami harapkan semuanya ada disini, kehidupan pedesaan yang damai, nyaman ditambah lagi suara gemericik air yg mengalir dari pegunungan serta ditambah aroma kayu bakar yang mengepul dari dapur rumah penduduk setempat menambah suasana pedesaan semakin kental yang sudah sulit lagi ditemui di kehidupan perkotaan.




Sesampainya di lokasi kamipun menurunin jalan yang apik tersusun rapih ditambah lagi kanan kirinya di tumbuhi oleh hijaunya pepohonan langka, dari informasi pemiliknya memang sengaja ditanami pepohonan langka, yang mana menurut pemiliknya agar anak cucunya tetap mengenal pepohonan langka yang kini sudah sulit dijumpai di kota Jakarta.



Begitu kami turun mata kami tertuju pada gubuk-gubuk yang terbuat dari bamboo betung terasa sekali suasana pedesaan, dan ada beberapa bangunan yang terbuat dari beton (rumah induk, rumah tempat berkumpul, dan mushola) selebihnya gubuk-gubukan yang terbuat dari bamboo kurang lebih ada 10 gubuk-gubukan.




Di suasana sore Seputar Jalan Jalan begitu menikmati suasana di tempat ini, dengan suara ayunan pohon bamboo yang diterpa angin, ditambah lagi suara burung dan gemericik suara air yag mengalir dari pegunungan.



Ada satu yang unik disini adalah : tidak ada kompor !, hanya ada beton yang menyerupai tungku dan bahan bakarnya ranting-ranting kering dan untuk penerangan menggunakan listrik karena disini ada mushola.



Oh yah …. dari jalan raya kami harus menelusuri jalan setapak kurang lebih ada 3 kilo meter dari situ kami harus turun lagi sekitar 500 meter menuju lokasi padepokan.



Seputar jalan jalan menyebut tempat ini adalah “ Wisata Alam Kaki Langit” karena kami disini benar benar menyatu dengan alam dan benar-benar suasana pedesaan yang masih asri, di desa ini jumlah penduduknya masih jarang yang pada umumnya penduduk disekitar sini masih saudara semuanya jadi tidak ada yg tercerai berai dari induknya dan kamipun berpikir jangan-jangan penduduk disini menganut “ makan tidak makan asal kumpul ” he…he….he….



 


Memasuki suasana malam di wisata alam kaki langit ini baru terasa indahnya suasana, dengan sahutan suara jangkrik dan katak yang menyanyikan lagu-lagu malamnya. Udara dingin begitu menusuk-nusuk kulit yang menambah suasana semakin indah duduk didepan perapian sambil ditemani oleh secangkir kopi dan singkong rebus.


 

 

 

Seputar jalan jalan hampir lupa menceritakan yang satu ini yaitu "kuliner", bagi kami sangat istimewa sekali untuk makan malam di satu tempat seperti di pegunungan ini dengan lauknya : ikan asin, sayur asem, sambal tempe, lalapan, dan yang sangat unik sekali terutama lalapannya ternyata pepohonan yang ditanam oleh pemilknya semuanya dapat dijadikan lalapan yang tentunya yang suka dengan lalapan, seperti daun mangkok-mangkokan, asparagus, daun poh-pohan dan berbagai macam lagi yang bagi kami sangat asing dan tidak tahu namanya.

Dan kami sangat kagum sekali dengan keadaan disini semua yang kami makan semuanya berasal dari satu tempat, berasnya nanam sendiri, ikannya tinggal ambil dari kolam dan dijadikan ikan asin, buah-buahan tinggal ambil dan metik dari pohonnya dan semuanya sudah tersedia disini semuanya. Sungguh kaya alam Indonesia ini benar apa yang dinyanyikan oleh Koes Plus, " tongkat dan kayu jadi tanaman ..... ".

Kebersamaan atau ngeriung kata orang sunda, sangat ...sangat nikmat sekali walaupun makanannya tidak semewah seperti di resto siap saji yang ada di kota-kota besar. Seputar jalan jalan sangat menikmati perjalanan berwisata alam di kaki langit ini, karena tidak akan pernah terulang kembali mendapatkan suasana yang sangat kekeluargaan dan kebersamaan.



 

Related Post:

0 comments:

Post a Comment

 
www.e-referrer.com