Suatu senja di penghujung tahun 1966, Bung Karno duduk di belakang Istana Negara, saat itu kekuasaan Bung Karno sudah melemah, beberapa Jenderal pro Suharto berkali-kali mengunjunginya untuk menggertak Bung Karno dan membully-nya agar Bung besar ini lepas dari kekuasaan. Bung Karno sering terdiam, matanya kerap basah, ada hal berat yang ia pikirkan...sebuah bangsa...ya sebuah bangsa. Bisa dikatakan Indonesia adalah pertalian antara realisme keadaan politik dan imajinasi-imajinasi Sukarno, Indonesia adalah cinta yang membuat Sukarno hidup dalam apinya kebangkitan sebuah negeri, sebuah daya hidup yang membakar-bakar naluri gerak manusia.
Tapi di senja awal desember 1966, Sukarno terlihat kuyu lunglai, ia seakan melihat sesuatu yang jauh tapi gagal dimengerti. Anaknya Megawati yang pendiam itu memperhatikan bapaknya, memperhatikan perubahan raut muka wajah bapaknya. Mega kerap bertanya, "Kenapa Bapak yang dulu bergembira, melucu dan bertingkah jenaka, selalu sedih..." tapi hal itu ia pendam jauh-jauh, ia tau keadaan tidak menyenangkan diluaran sana, beberapa mahasiswa kawannya juga ikut-ikutan mencaci Bung Karno, ia tau Bung Karno sedang menghadapi cobaan yang maha berat.
Sore itu Megawati dipanggil Bung Karno yang duduk diam di bangku rotan belakang istana negara. "Ega..sini" kata Bung Karno memanggil anaknya Mega...Tapi di senja awal desember 1966, Sukarno terlihat kuyu lunglai, ia seakan melihat sesuatu yang jauh tapi gagal dimengerti. Anaknya Megawati yang pendiam itu memperhatikan bapaknya, memperhatikan perubahan raut muka wajah bapaknya. Mega kerap bertanya, "Kenapa Bapak yang dulu bergembira, melucu dan bertingkah jenaka, selalu sedih..." tapi hal itu ia pendam jauh-jauh, ia tau keadaan tidak menyenangkan diluaran sana, beberapa mahasiswa kawannya juga ikut-ikutan mencaci Bung Karno, ia tau Bung Karno sedang menghadapi cobaan yang maha berat.
Mega datang pelan menghampiri Bapaknya yang duduk dan kadang terbatuk. "Ya Pak..."
"Ega...aku membangun bangsa ini dengan satu nyawa...persatuan...dan hanya persatuanlah yang membuat bangsa ini besar...persatuanlah yang membuat bangsa ini tegak berdiri terhormat, di masa lalu mungkin aku bisa mengusir penjajah kulit putih, jelas beda dengan tubuh kita, jelas beda dengan fisik kita... tapi sekarang perjuanganmu akan lebih berat, musuhmu ya bisa saja bangsamu sendiri.... mereka sama dengan kita, tapi mentalitasnya masih terjajah...."
...."Ega, Bapak titipkan bangsa ini padamu...kelak kamu akan melihat bapakmu dihina seperti bandit, tapi kamu akan juga melihat aku dipuja seperti dewa....tapi aku tetaplah manusia, manusia yang punya cita-cita...pembebasan sebuah bangsa, bila ini sudah tercapai, cukup sudah hidupku...aku hanya berdoa untuk Indonesiaku, sebuah mimpi yang mungkin terus menerus belum selesai, tapi bagaimanapun ia harus ada..."
Dan kelak Megawati sendiri mengalami kekerasan politik Orde Baru, seperti ramalan Sukarno bahwa Megawati harus menghadapi bangsanya sendiri, tapi sejarah juga mencatat Mega bertahan, melebur dan berdarah-darah tetap untuk satu tujuan terbentuknya negara demokratis, negara yang menghargai hak hidup warga negaranya, negara yang berpihak pada orang-orang kecil...pada sebuah rakyat, tempat dimana seharusnya Indonesia didirikan.....
(Sumber : Catatan Kenangan Megawati dengan Sukarno / kluget.com)

0 comments:
Post a Comment