Pages

Tuesday, 22 October 2013

Tergesernya Nilai-Nilai Sosial Budaya Di Tengah-Tengah Tayangan Sinetron

Prihatin sekali kalau kita lihat sekarang ini, tayangan-tayangan di televisi swasta nasional kita tidak ada satupun yang menyuguhkan hiburan kesenian budaya yang ada di Nusantara ini.

Mari kita kilas balik kebelakang sejenak , pada era televisi swasta nasional baru ada  RCTI dan TPI untuk penyebaran informasi dan hiburan kesenian daerah dan sosial budaya yang ada di setiap Nusantara, sering di tayangkan di televisi swasta tersebut. Baik itu kesenian daerah dari Jawa Tengah (Wayang Kulit), Jawa Barat (Wayang Golek, Jaipongan), social budaya dari setiap provinsi yang ada di Nusantara ini, bahkan di era tahun 80-an di televisi nasional (TVRI) ada acara "dari desa ke desa", yang meceritakan tentang kehidupan sosial budaya di setiap daerah yang ada di Nusantara ini dan bahkan kemajuan yang sudah dicapai didalam pembangunan daerahnya.
Sekarang di kemanakan acara tersebut ???




Mungkin untuk saat ini untuk tayangan yang seperti tersebut diatas, televisi swasta Nasional kita tidak mendapat rating atau bahkan ratingnya rendah dan mungkin juga biaya produksinya tidak menutupi alias merugi. Sangat disayangkan kalau hanya melihat kearah profit, sedangkan fungsi dari televisi tersebut adalah sebagai media penyebar informasi, media untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Nusantara ini serta sekaligus media hiburan untuk masyarakat luas. Saat ini pertelevisian swasta di Indonesia booming dengan acara tayangan sinetron [biaya produksi tertutupi, untung besar, rating tinggi].

Anak-anak usia dini (6 th – 12 th) hafal dengan isi cerita sinetron yang sering di tontonnya, bahkan anak-anak usia dini tersebut mengikuti tingkah laku dari aktor/aktris yang memerankan tokoh di sinetron tersebut, bahkan sekaligus menirukan ucapan-ucapan atau kata-kata yang dilontarkan oleh aktor/aktris yang memerankan tokoh di sinetron yang di tontonnya bahkan merekamnya dan dijadikan ucapan sehari-harinya untuk mengejak teman-temnnya dan bahkan juga melontarkannya kepada orang tuanya.

Bagaimana dengan KPI (Komisis Penyiaran Indonesia) ??

Visi
Terwujudnya sistem penyiaran nasional yang berkeadilan dan bermartabat untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat

Misi
1.    Mengembangkan kebijakan pengaturan, pengawasan dan pengembangan Isi Siaran;
2.  Melaksanakan kebijakan pengawasan dan pengembangan terhadap Strutur Sistem Siaran dan Profesionalisme Penyiaran;
3.    Membangun Kelembagaan KPI dan pastisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran;
4.    Meningkatkan kapasitas Sekretariat KP

Sedangkan KPI sendiri mempunyai VISI, dan MISI yang menurut penulis sudah sangat memadai untuk dapat meneliti setiap tayangan di station televisi swasta maupun milik pemerintah. Kalau dilihat dan dicermati dari visi KPI, seharusnya KPI tanggap dengan tayangan-tayangan yang ada dan disiarkan di setiap televisi swasta maupun milik pemerintah.
  
Tidak sedikit masyarakat kita terutama para orang tua yang mengeluhkan dengan tayangan-tayangan yang isinya tidak mendidik, bergeser dari sosial budaya bangsa, dan juga adat bangsa kita yaitu “adat ketimuran”, norma-norma agama dan menghilangnya seni budaya bangsa di tayangan televisi yang ada di Indonesia.

Bagaimana Dengan LSF (Lembaga Sensor Film) ?

Penulis sendiripun tidak habis pikir kenapa  bisa lolos sensor dan bisa tayang  ?, apakah LSF mensensor hanya melihat dari “Judulnya”, dan dari kategori penonton ?
   
Seharusnya badan LSF harus cermat dan mendengar aspirasi dari masyrakat luas, yang sudah banyak mengeluh dengan tayangan-tayangan sinetron yang tidak mendidik bagi pemirsanya [terutama anak-anak usia dini] dan bahkan membawa preseden buruk juga bagi badan LSF karena berhasil meloloskan sensor tayangan tersebut, padahal LSF sendiri berperan sebagai “menyeleksi setiap program yang akan tayang di TV” dan LSF jangan hanya melihat dari judulnya saja atau dari sinopsisnya saja tetapi tonton sampai habis setiap tayangan yang akan disensor [teliti dari setiap adegannya, terutama sekali adalah cermati dialog yang terdapat di program tersebut], katakan tidak kalau memang tidak lolos sensor.


Dan saat ini produksi sinentron tidak lagi memperhatikan dari segi : norma agama, social budaya dan adat ketimuran kita sebagai masyarakan bangsa Indonesia, yang ada adalah kejar tayang karena rating tinggi, dan tidak peduli lagi dengan alur cerita didalamnya yang sudah tidak kontiniti dengan judul yang dibuatnya.

Related Post:

0 comments:

Post a Comment

 
www.e-referrer.com